Fikom News – Surabaya, Kementerian Agama (Kemenag) merespons cepat situasi bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatera pada pertengahan Desember ini. Demi menjamin keselamatan dan keberlangsungan pendidikan, Kemenag secara resmi mengizinkan siswa madrasah yang terdampak bencana untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara daring atau online.
Kebijakan ini diambil menyusul laporan terhambatnya akses menuju sekolah akibat genangan air yang memutus sejumlah ruas jalan dan merendam fasilitas umum di wilayah terdampak.
Pihak Kementerian Agama menegaskan bahwa keselamatan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan merupakan prioritas utama saat ini. Oleh karena itu, kepala madrasah di wilayah terdampak diberikan diskresi untuk menyesuaikan metode pembelajaran, beralih dari tatap muka ke Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
“Kami memantau kondisi di lapangan sangat dinamis. Bagi madrasah yang aksesnya terputus atau bangunannya terdampak banjir, kami instruksikan untuk segera mengalihkan pembelajaran ke metode daring. Jangan memaksakan tatap muka jika kondisi membahayakan,” bunyi keterangan resmi pihak Kemenag, Minggu (14/12/2025).
Selain opsi belajar daring, Kemenag juga meminta Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag di provinsi terdampak untuk terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Hal ini dilakukan untuk memetakan kerusakan infrastruktur pendidikan dan memastikan kebutuhan dasar siswa tetap terpenuhi.
Langkah fleksibilitas kurikulum juga ditekankan, di mana guru diminta tidak membebani siswa dengan tugas-tugas berat selama masa tanggap darurat, melainkan fokus pada pemulihan psikososial dan materi esensial.
Pemerintah berharap banjir segera surut sehingga aktivitas pendidikan di Aceh dan wilayah Sumatera lainnya dapat kembali normal. Hingga berita ini diturunkan, proses pendataan madrasah yang mengalami kerusakan fisik akibat banjir masih terus dilakukan.












