Creative Writing

Policy Brief Soft Masculinity di Tiktok dan Tantangan Kesetaraan Gender

×

Policy Brief Soft Masculinity di Tiktok dan Tantangan Kesetaraan Gender

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi. (Freepik)

FIKOM – Perkembangan media sosial telah mengubah cara Generasi Z membangun dan memaknai identitas gender. TikTok sebagai platform berbasis visual dan afeksi, menjadi ruang utama produksi norma-norma baru tentang maskulinitas. Salah satu fenomena yang menonjol adalah munculnya representasi soft masculinity, maskulinitas yang ditampilkan melalui sikap tenang, reflektif, dan protektif, serta menjauh dari citra maskulinitas macho yang agresif. Representasi ini kerap dipahami sebagai bentuk kemajuan dalam wacana kesetaraan gender di ruang digital.

Namun, berdasarkan analisis multimodal terhadap tren Fineshyt di TikTok Indonesia, policy brief ini menunjukkan bahwa soft masculinity tidak sepenuhnya membongkar relasi kuasa gender. Melalui gestur protektif non-agresif, ekspresi emosional yang terkendali, dan dominasi narasi point of view (POV), laki-laki secara konsisten diposisikan sebagai subjek aktif dan reflektif, sementara perempuan lebih sering hadir sebagai pihak yang dilindungi. Pola ini membentuk kesetaraan yang bersifat simbolik dan afektif, tetapi tetap menyimpan hierarki gender secara subtil.

Temuan ini menjadi penting bagi pengambil kebijakan di bidang pendidikan, literasi digital, dan tata kelola media karena menunjukkan bahwa perubahan representasi tidak selalu berbanding lurus dengan perubahan struktur relasi sosial. Policy brief ini bertujuan memberikan rekomendasi kebijakan untuk mendorong literasi gender kritis dan pengelolaan ruang digital yang lebih adil, reflektif, dan setara bagi Generasi Z.


 

Translate »