OpiniPendidikan

Suara dari Udara ke Ruang Kelas : Dedikasi Rudi, Praktisi Sekaligus Mentor Mahasiswa

×

Suara dari Udara ke Ruang Kelas : Dedikasi Rudi, Praktisi Sekaligus Mentor Mahasiswa

Sebarkan artikel ini
Sosok Rudi Herwanto di Studio Istara FM saat bercengkrama bersama teman sejawatnya.

Surabaya, Fikom News – Bagi lingkungan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dr. Soetomo (Unitomo), sosok Rudi Herwanto bukan sekadar asisten dosen biasa. Beliau adalah jembatan antara teori-teori yang kaku di dalam kelas, dan realitas industri penyiaran yang dinamis di Radio Istara Surabaya.

Tugas sebagai mahasiswa jurnalistik menuntut kita untuk melihat lebih dalam ke sisi humanis seorang tokoh. Pak Rudi telah lama mendedikasikan hidupnya di dunia radio. Sebuah media yang oleh sebagian orang dianggap mulai redup tergerus zaman. Namun, baginya tetap menjadi media yang paling personal dan jujur.

Di Radio Istara, ia bukan sekadar pengelola teknis. Ia adalah penjaga semangat agar frekuensi radio tetap relevan di tengah gempuran layanan streaming musik dan algoritma media sosial yang serba cepat.

Bagi Pak Rudi, menjalani peran ganda sebagai praktisi di Radio Istara dan asisten dosen di Fikom Unitomo adalah dua hal yang berbeda. Namun, itu saling melengkapi.

“Ilmu di kelas itu hanya landasan teori. Teori belum tentu 90% sama saat di lapangan. Sama seperti di dunia penyiaran. Radio adalah laboratorium aslinya. Saya ingin mahasiswa tidak hanya tahu apa itu broadcasting lewat lembaran buku dan teori saja. Harus benar-benar merasakan adanya ‘roh’. Karena siaran itu dibangun melalui suara dan rasa. Percuma kalau duduk di kelas saja tapi tidak paham,” ujarnya saat bercengkrama di studio Istara.

Kecintaannya pada dunia radio bermula dari saat bersekolah. Pak Rudi memiliki rasa kagum pada kekuatan suara, yang mampu menembus batas ruang dan waktu. Tanpa perlu tatap muka secara langsung. Selama bertahun-tahun berkelana dari satu radio ke radio lain, ia telah melewati berbagai perubahan zaman yang drastis.

Mulai dari era analog yang menggunakan piringan hitam dan kaset pita yang harus diputar manual, hingga kini bermigrasi sepenuhnya ke sistem digital yang serba otomatis. Pengalaman lintas generasi inilah yang ia bawa ke dalam ruang kelas, memberikan perspektif yang kaya bagi mahasiswa yang ia bimbing dalam mata kuliah produksi radio bagi mahasiswa Media Studies.

Pak Rudi dikenal sebagai sosok yang santai namun tetap menjunjung tinggi kedisiplinan. Di balik pembawaannya yang ramah dan sering melempar candaan, ia adalah mentor yang sangat teliti. Ia tidak segan untuk memberikan kritik tajam jika teknik vokal atau cara pembawaan siaran mahasiswanya kurang maksimal. Baginya, setiap kata yang keluar di udara memiliki tanggung jawab moral yang besar kepada publik.

Sisi humanis Pak Rudi semakin terlihat saat ia menceritakan tantangan terberat radio di masa kini. Ia bercerita tentang bagaimana radio harus tetap menjadi “sahabat” di tengah kesepian masyarakat urban Surabaya. Ia percaya bahwa selama manusia masih mendengar, butuh informasi yang valid, dan butuh teman secara personal, maka radio tidak akan pernah mati.

Semangat “tahan banting” inilah yang selalu ia tularkan kepada mahasiswa agar tidak mudah menyerah di tengah industri media yang sangat kompetitif.

“Bukan cuma otak kiri yang perlu berkembang. Otak kanan juga perlu. Apalagi di industri media kreatif seperti radio. Harus banyak-banyak ide untuk menarik hati listener,dong,” ujarnya pada mahasiswa.

Di tengah tuntutan digitalisasi media yang merajalela ini, Pak Rudi terus berinovasi. Ia mulai mengintegrasikan konten-konten radio dengan platform digital dan media sosial. Itu sebuah strategi adaptasi yang ia ajarkan juga kepada para mahasiswanya di Unitomo. Ia membuktikan bahwa seorang praktisi komunikasi tidak boleh kaku, melainkan harus bersifat fleksibel dan mampu membaca arah angin perubahan teknologi.

Melalui bimbingannya, beberapa mahasiswa Fikom akhirnya menemukan passion mereka di dunia penyiaran dan jurnalisme suara. Pak Rudi adalah bukti nyata bahwa dedikasi pada satu bidang dan menekuni dengan sepenuh hati, akan memberikan manfaat yang sangat luas. Baik melalui getaran udara di Radio, maupun melalui transfer ilmu yang bermakna di setiap sudut ruang kelas kampus Unitomo.

Translate »