Nilai tukar rupiah kembali melemah hingga menyentuh kisaran Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Internasional, Senin (13/7). Pelemahan tersebut terjadi ketika dolar AS menguat akibat meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Kondisi itu membuat investor mengalihkan dana ke aset yang lebih aman sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang memicu penguatan dolar AS. Ketegangan tersebut meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven. Akibatnya, dolar AS menguat terhadap berbagai mata uang dunia. Selain itu, pelaku pasar masih menunggu arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve). Keputusan tersebut memengaruhi arus modal global sehingga berdampak pada pergerakan nilai tukar di banyak negara.
Investor Mencermati Kebijakan Fiskal Pemerintah
Di dalam negeri, investor turut mencermati kebijakan fiskal pemerintah. Perhatian tersebut meningkat setelah Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan proyeksi terbaru mengenai kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Pemerintah memperkirakan defisit APBN 2026 mencapai 2,85 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya yang berada di kisaran 2,68 persen PDB.
Pemerintah meningkatkan belanja negara untuk memenuhi kebutuhan subsidi energi dan menjalankan berbagai program prioritas nasional. Meski demikian, pemerintah memastikan bahwa defisit APBN tetap berada di bawah batas maksimal 3 persen PDB sesuai Undang-Undang Keuangan Negara.
Purbaya Nilai Fundamental Ekonomi Masih Terjaga
Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan rupiah tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, serta kondisi sektor perbankan masih menunjukkan kinerja yang relatif stabil dibandingkan sejumlah negara di kawasan. Ia juga menilai tekanan terhadap rupiah lebih banyak berasal dari faktor eksternal. Oleh karena itu, pemerintah terus memantau perkembangan ekonomi global dan menyesuaikan kebijakan fiskal sesuai kebutuhan.
Dampak Pelemahan Rupiah
Pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor bahan baku dan barang modal. Perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mempertahankan kegiatan produksinya. Selain itu, pelemahan rupiah juga meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri yang menggunakan dolar AS. Pemerintah dan sektor swasta perlu menyediakan dana lebih besar ketika melakukan pembayaran dalam mata uang asing. Di sisi lain, eksportir berpotensi memperoleh keuntungan. Pendapatan dalam dolar AS akan meningkat setelah dikonversi ke rupiah. Kondisi tersebut dapat memperkuat penerimaan perusahaan yang berorientasi ekspor.
Pemerintah dan Bank Indonesia Menjaga Stabilitas
Pemerintah terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Bank Indonesia juga menggunakan berbagai instrumen moneter guna mengurangi gejolak di pasar keuangan. Koordinasi tersebut bertujuan menjaga kepercayaan investor sekaligus mempertahankan stabilitas sistem keuangan nasional. Pemerintah berharap langkah tersebut mampu meredam tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek.
Ekonom memperkirakan nilai tukar rupiah masih bergerak fluktuatif dalam beberapa pekan ke depan. Perkembangan konflik geopolitik, kebijakan suku bunga The Fed, serta kondisi ekonomi global akan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah. Sementara itu, investor juga akan terus mengamati konsistensi kebijakan fiskal pemerintah. Langkah tersebut menjadi salah satu indikator penting untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia.












