Creative WritingEkonomi

Pedagang Kaki Lima di Sekitar Kampus: Nafkah yang Bergantung pada Aktivitas Mahasiswa

×

Pedagang Kaki Lima di Sekitar Kampus: Nafkah yang Bergantung pada Aktivitas Mahasiswa

Sebarkan artikel ini
Mas Ipul datang ke Surabaya bukan membawa mimpi besar, melainkan kebutuhan hidup

SURABAYA| FIKOM NEWS – Asap tipis mengepul dari wajan besar di bawah lampu jalan yang temaram. Bau bawang putih yang ditumis bercampur kecap manis menyebar ke udara, memancing siapa pun yang melintas untuk menoleh. Di sudut jalan dekat dengan arah menuju kampus Universitas Dr. Soetomo (Unitomo), sebuah gerobak sederhana berdiri setiap sore hingga larut malam.

Di baliknya, seorang pria paruh baya mengaduk nasi di atas api. Namanya sering dipanggil Mas Ipul, perantau asal Tuban yang telah lima tahun menggantungkan hidup dari sepiring nasi goreng mahasiswa.

Mas Ipul datang ke Surabaya bukan membawa mimpi besar, melainkan kebutuhan hidup. Di kampung halamannya di Tuban, penghasilan sebagai buruh tani tak cukup untuk membiayai sekolah anaknya. Ia memilih merantau, mengikuti jejak saudara yang lebih dulu mencoba peruntungan di kota.

“Awalnya aku ikut kerja orang mas, bantu-bantu jualan. Setelah punya tabungan, baru berani beli gerobak sendiri,” tuturnya sambil membalik nasi dengan spatula.

Lokasi di sekitar kampus bukan pilihan asal. Menurut Mas Ipul, mahasiswa adalah pelanggan yang setia. Setiap hari ia mulai mangkal pukul lima sore, tepat saat aktivitas perkuliahan mulai mereda.

Pada hari-hari ramai, terutama ketika kampus penuh kegiatan, ia bisa menghabiskan lebih dari lima kilogram beras. “Kalau pas ramai, bisa laku sampai enam puluhan porsi. Biasanya habis jam sepuluh-sebelas malam,” katanya.

Namun ritme itu sangat bergantung pada denyut kampus. Saat libur semester tiba, suasana berubah drastis. Jalanan yang biasanya riuh menjadi sepi. Gerobak Mas Ipul tetap berdiri di tempat yang sama, tetapi pembeli berkurang separuh.

“Waktu libur panjang, paling cuma laku dua puluh sampai tiga puluh porsi. Kadang malah rugi karena bahan keburu habis,” ujarnya lirih.

Mahasiswa bukan sekadar pembeli bagi Mas Ipul. Mereka adalah bagian dari kehidupannya sehari-hari. Ada yang datang hampir setiap malam, ada yang memesan sambil bercerita tentang tugas atau skripsi. Ia hafal pesanan beberapa pelanggan tetap: nasi goreng pedas, tanpa sawi, ekstra telur.

“Anak-anak itu sering cerita capek kuliah, capek organisasi. Saya dengarkan saja. Bagi saya, mereka seperti adek sendiri,” ucapnya sambil tersenyum.

Interaksi kecil itu membentuk relasi yang lebih dari transaksi ekonomi. Kadang ada mahasiswa yang belum punya uang dan berjanji membayar esok hari. Mas Ipul jarang menolak. Ia tahu bagaimana rasanya hidup pas-pasan di perantauan. “Dulu saya juga pernah begitu. Jadi kalau mereka bilang besok bayar, ya saya percaya,” katanya.

Keberadaan pedagang kaki lima seperti Mas Ipul menunjukkan bahwa kampus bukan hanya ruang akademik, tetapi juga pusat kehidupan sosial dan ekonomi. Aktivitas mahasiswa menciptakan ekosistem kecil yang menghidupi banyak orang: penjual makanan, tukang fotokopi, penjaga parkir, hingga ojek daring. Ketika kampus ramai, roda ekonomi mikro ikut berputar. Ketika kampus sepi, mereka ikut merasakan dampaknya.

Bagi Mas Ipul, setiap semester baru adalah harapan. Ia berharap kampus kembali penuh, gerobaknya kembali dikerubungi mahasiswa yang lapar sepulang kelas. Dari balik wajan panas, ia menatap masa depan sederhana: cukup untuk menyekolahkan anak dan pulang ke Tuban setahun sekali. “Saya tidak ingin kaya. Asal bisa hidup dan anak saya lebih baik dari saya, itu sudah cukup,” katanya.

Di balik aroma nasi goreng yang menggoda, tersimpan kisah perantau yang bertahan dengan cara paling sederhana. Setiap piring yang disajikan bukan hanya makanan, tetapi juga bagian dari perjuangan hidup yang bergantung pada langkah mahasiswa di sekitar kampus.

Translate »