Creative WritingEkonomi

Menyusuri Kota Tua Surabaya: Ketika Sejarah Tidak Pernah Benar-Benar Pergi

×

Menyusuri Kota Tua Surabaya: Ketika Sejarah Tidak Pernah Benar-Benar Pergi

Sebarkan artikel ini
Kota Tua Surabaya hingga kini tetap hidup sebagai ruang sejarah yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Ia bukan sekadar peninggalan masa lalu

SURABAYA| FIKOM NEWS – Surabaya dikenal sebagai kota metropolitan dengan ritme yang cepat, penuh gedung tinggi, pusat perbelanjaan, dan lalu lintas yang nyaris tak pernah sepi. Namun di balik wajah modern itu, Surabaya menyimpan ruang-ruang lama yang masih bertahan dan menyimpan cerita panjang tentang masa lalu. Kawasan Kota Tua Surabaya adalah salah satunya. Terletak di sekitar Jembatan Merah, Jalan Rajawali, Kembang Jepun, hingga kawasan Ampel, Kota Tua menjadi saksi bagaimana Surabaya tumbuh dari kota pelabuhan hingga menjadi kota besar seperti sekarang.

Kota Tua Surabaya mulai berkembang sejak abad ke-18 ketika aktivitas perdagangan di sepanjang Sungai Kalimas semakin ramai. Pada masa itu, kawasan ini menjadi pusat ekonomi, pemerintahan, dan permukiman berbagai kelompok masyarakat. Pedagang dari Eropa, Tiongkok, Arab, dan Nusantara bertemu di wilayah yang sama, meninggalkan jejak budaya yang hingga kini masih dapat dilihat dari bentuk bangunan, tata kawasan, hingga aktivitas masyarakatnya.

Saat menyusuri kawasan Jembatan Merah, suasana masa lalu terasa cukup kuat. Bangunan-bangunan tua dengan dinding tebal, jendela tinggi, dan arsitektur kolonial masih berdiri di sepanjang jalan. Kawasan ini memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya pada peristiwa menjelang 10 November 1945. Meski kini kendaraan lalu lalang tanpa henti, kawasan Jembatan Merah tetap menyimpan memori tentang konflik, perjuangan, dan perubahan besar yang pernah terjadi di Surabaya.

Beranjak ke arah Kembang Jepun, suasana Kota Tua terasa berbeda. Kawasan yang sejak lama dikenal sebagai Pecinan ini menampilkan deretan ruko tua dengan arsitektur khas Tionghoa. Sebagian bangunan masih difungsikan sebagai tempat usaha, mulai dari toko kelontong, gudang, hingga tempat makan. Aktivitas perdagangan yang terus berjalan membuat kawasan ini tidak terasa seperti kawasan yang ditinggalkan waktu. Justru, kehidupan sehari-hari masyarakat menjadi bukti bahwa sejarah di Kota Tua masih berdenyut bersama aktivitas modern.

Di sisi lain, kawasan Ampel menghadirkan nuansa religius dan budaya yang kuat. Sebagai salah satu kawasan tertua di Surabaya, Ampel tidak hanya dikenal sebagai tujuan ziarah, tetapi juga sebagai ruang pertemuan budaya. Lorong-lorong sempit, bangunan tua, serta aktivitas jual beli yang padat menciptakan suasana khas yang sulit ditemukan di bagian kota lainnya. Di kawasan ini, sejarah tidak hanya tersimpan dalam bangunan, tetapi juga dalam tradisi dan aktivitas masyarakat yang terus berlangsung.

Dalam beberapa tahun terakhir, Kota Tua Surabaya mulai mendapat perhatian sebagai destinasi wisata sejarah dan edukasi. Penataan kawasan, perbaikan fasilitas umum, serta berbagai kegiatan berbasis sejarah dan budaya perlahan menghidupkan kembali kawasan ini. Kota Tua tidak lagi hanya dipandang sebagai wilayah lama yang terkesan kumuh, tetapi sebagai aset kota yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan ekonomi.

Meski demikian, tantangan pelestarian masih cukup besar. Usia bangunan yang sudah tua membuat sebagian gedung rentan rusak jika tidak dirawat dengan baik. Selain itu, kesadaran masyarakat untuk menjaga nilai sejarah kawasan juga menjadi faktor penting. Tanpa upaya pelestarian yang berkelanjutan, Kota Tua berisiko kehilangan identitasnya dan hanya tersisa sebagai nama tanpa makna.

Bagi generasi muda, Kota Tua Surabaya menawarkan pengalaman yang berbeda. Berjalan di kawasan ini memberikan kesempatan untuk melihat sisi lain Surabaya yang jarang ditemui di pusat kota modern. Setiap sudut menghadirkan cerita, setiap bangunan menyimpan jejak masa lalu. Kota Tua mengajak pengunjung untuk memahami bahwa kota tidak hanya dibangun dari beton dan gedung tinggi, tetapi juga dari sejarah panjang yang membentuk identitasnya.

Kota Tua Surabaya hingga kini tetap hidup sebagai ruang sejarah yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Ia bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian dari perjalanan kota yang terus bergerak. Selama masih ada upaya untuk menjaga dan menghargainya, Kota Tua akan tetap menjadi pengingat bahwa Surabaya adalah kota dengan sejarah yang kuat dan beragam.

Translate »