Surabaya, Fikom News – Rendahnya peringkat mutu pendidikan Indonesia di kancah global, seperti yang tecermin dalam hasil Programme for International Student Assessment (PISA), bukanlah anomali. Analisis data dari berbagai lembaga kredibel menunjukkan adanya masalah fundamental dan sistemik yang mengakar pada dua sektor krusial: kualitas tenaga pendidik dan ketimpangan infrastruktur pendidikan.
Data-data ini menyajikan gambaran objektif mengenai tantangan besar yang dihadapi sistem pendidikan nasional dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan berdaya saing.
Faktor Kualitas Guru
Kualitas guru, sebagai ujung tombak pendidikan, menjadi salah satu faktor penentu utama. Berdasarkan data hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dalam beberapa tahun terakhir, rata-rata nasional nilai kompetensi guru secara konsisten belum mencapai target ideal yang ditetapkan, yakni 70. Data tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan kompetensi pedagogik dan profesional di kalangan pendidik secara luas.
Distribusi guru yang tidak merata juga memperburuk kondisi. Laporan Bank Dunia bertajuk “Teachers in Indonesia: A Cross-Sectoral Analysis” menyoroti bahwa banyak guru berkinerja tinggi dan bersertifikasi terkonsentrasi di wilayah perkotaan di Pulau Jawa. Sebaliknya, wilayah terpencil dan tertinggal mengalami kekurangan guru, terutama untuk mata pelajaran sains dan matematika.
Ketimpangan Infrastruktur yang Nyata
Kesenjangan kualitas juga tecermin jelas dari data kondisi fisik sekolah. Menurut data Statistik Pendidikan yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), puluhan ribu ruang kelas di seluruh Indonesia, terutama pada jenjang SD dan SMP, berada dalam kondisi rusak sedang hingga rusak berat. Angka ini jauh lebih tinggi di luar Pulau Jawa dibandingkan di pusat-pusat ekonomi.
Kesenjangan tidak hanya berhenti pada bangunan fisik. Akses terhadap fasilitas penunjang pembelajaran modern juga sangat timpang. Data dari Kemendikbudristek menunjukkan masih banyak sekolah, khususnya di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal), yang belum memiliki akses internet yang memadai. Bahkan, sebagian kecil sekolah dilaporkan belum teraliri listrik secara penuh, menghambat setiap upaya digitalisasi pendidikan.
Dampak pada Hasil Belajar Siswa
Kombinasi dari rendahnya kualitas dan distribusi guru yang tidak merata serta infrastruktur yang timpang ini berdampak langsung pada hasil belajar siswa. Laporan PISA 2022 menjadi bukti kuantitatifnya. Laporan tersebut menyatakan bahwa sekitar 69% siswa di Indonesia belum mencapai level kompetensi minimum dalam bidang matematika, dan 51% siswa berada di bawah kompetensi minimum dalam hal membaca.
Angka-angka ini menegaskan bahwa untuk keluar dari stagnasi mutu pendidikan, pembenahan secara fundamental yang berbasis data pada sektor kualitas guru dan pemerataan infrastruktur menjadi sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditunda lagi.












