BADUNG, BALI – Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya sukses menembus panggung nasional dan internasional dalam ajang Postgraduate Course on the Social and Ecological Market Economy (SEME) 2026. Dalam forum bergengsi yang berlangsung pada 18-21 Mei 2026 di Sofitel Bali Nusa Dua Beach Resort, Badung, Bali ini, Unitomo meloloskan tiga dosen terbaiknya untuk ikut merumuskan arah kebijakan ekonomi Indonesia yang berkeadilan dan ramah lingkungan.
Ketiga dosen yang menjadi delegasi resmi tersebut adalah Anita Asnawi, S.Sos, MM (Fakultas Ilmu Administrasi), Dr. Wiwiek Harwiki, MM (Fakultas Ekonomi dan Bisnis), dan Dr. Nevrettia Christantyawati, S.Sos, M.Si (Fakultas Ilmu Komunikasi).
Partisipasi ini menjadi capaian prestisius bagi Unitomo mengingat ketatnya proses seleksi. Dari sekitar 50 pendaftar dari berbagai latar belakang di seluruh Indonesia, panitia hanya memilih 20 peserta terbaik. Para peserta harus melewati serangkaian penilaian mulai dari seleksi administrasi, penulisan esai ilmiah berbahasa Inggris, hingga wawancara daring menggunakan bahasa Inggris.

Program SEME 2026 sendiri diselenggarakan oleh Universitas Paramadina yang bekerja sama dengan Konrad Adenauer Stiftung (KAS) Indonesia. Forum ini mempertemukan akademisi, pakar ekonomi, pembuat kebijakan, aktivis, serta jurnalis untuk mendiskusikan model Social and Ecological Market Economy (SEME) di tengah tantangan krisis ekologi, ketimpangan sosial, dan disrupsi teknologi global. Di Indonesia, gagasan ini diintegrasikan dengan konsep Ekonomi Pasar Pancasila yang berbasis pada gotong royong dan tanggung jawab lingkungan.
Selama empat hari, para delegasi mengikuti sesi akademik intensif dari sejumlah pakar terkemuka. Di antaranya adalah Direktur KAS Indonesia Dr. Denis Suarsana, Wakil Rektor Universitas Paramadina Dr. Handi Risza Idris, Prof. Marcus Marktanner dari Kennesaw State University (AS), Umar Juoro, M.A. (The Habibie Center), ekonom senior Wijayanto Samirin, M.P.P., serta Direktur Eksekutif INDEF Dr. Tauhid Ahmad. Sesi pembuka juga menghadirkan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Dr. I Wayan Sumarajaya, M.Si., yang mengulas pariwisata berbasis komunitas.
Tidak sekadar menjadi pendengar, delegasi Unitomo bersama peserta lain juga ditantang menyusun rekomendasi kebijakan (policy brief) berbasis data. Kontribusi nyata Unitomo tertuang dalam dua dokumen rekomendasi kebijakan, yaitu:
“Social Ecological Market Pathway for Indonesia”, Peta jalan ekonomi sosial-ekologis berbasis Ekonomi Pasar Pancasila.
“Fiscal Balance, Regional Welfare, and Economic Growth: Regression Analysis of Provincial APBD Balance vs GDP per Capita and Economic Growth”, Analisis keseimbangan fiskal daerah terhadap kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi regional.
Pasca-kegiatan ini, para dosen Unitomo mengemban misi lanjutan untuk mendiseminasikan prinsip-prinsip ekonomi berkelanjutan ini kepada masyarakat luas, pelaku usaha, serta pemangku kebijakan. Melalui keterlibatan aktif ini, Unitomo menegaskan komitmennya dalam mendukung transformasi ekonomi Indonesia yang lebih inklusif, kompetitif, dan ramah lingkungan.












