Berita Pimpinan

Penelitian Ini Ungkap Alasan Bangkalan Sebaiknya Kembangkan Wisata Religi Ketimbang Wisata Alam

607
×

Penelitian Ini Ungkap Alasan Bangkalan Sebaiknya Kembangkan Wisata Religi Ketimbang Wisata Alam

Sebarkan artikel ini

FIKOM NEWS – Dinas Pariwisata Kabupaten Bangkalan membentuk Pokdarwis. Kelompok Masyarakat Sadar Wisata ini bertugas antara lain mendampingi desa yang punya potensi wisata sehingga mau mengembangkan menjadi obyek wisata.

Dua obyek wisata alam di Kecamatan Taniungbumi yang viral di masa pandemi covid 19 yaitu Pantai Talango dan Pantai Biru, hasil kerja Pokdarwis sejak dibentuk dua tahun lalu.

Tapi tiga peneliti dari Fakultas Ilmu Komunikasi Unitomo Surabaya tak merekomendasikan Bangkalan terus membuka wisata baru berbasis alam. Hasil penelitian ketiganya yang dibukukan dengan judul “Menoles Destinasi Wisata, Membangun Citra Kota”, justru menilai Bangkalan lebih pas memoles wisata religi yang telah ada sebagai city branding.

Buku karya Tim Peneliti Fikom

Adi mengamini hasil penelitian yang dimulai sejak 2018 itu, sebab 61 persen pariwisata di Indonesia berbasis kebudayaan. Dan 60 persen wisatawan, menurut data Kementerian Pariwisata, lebih menyenangi mengunjungi wisata berbasis budaya ketimbang wisata alam.

“Wisata budaya lebih mudah dikembangkan karena basisnya adalah adat istiadat masyarakat,” kata dia.

Pariwisata di Masa Pandemi

Selain Makam ulama Syaikhona Kholil di Desa Martajesah. Bangkalan punya tiga obyek wisata religi yang selalu ramai dikunjungi meski di situasi pandemi. antara lain Pasarean Aer Mata di Kecamatan Arosbaya, Makam Potre Koneng di Puncak Gunung Kecamatan Geger dan Pasarean Sunan Cendana di Kecamatan Kwanyar.

Meski telah berjalan, dua anggota peneliti Farida dan Zulaikha, mereka Dosen Fikom Unitomo, menilai manajemen pengelolaannya perlu banyak dibenahi.Ketiadaan toilet umum di wisata Makam Potre Koneng menunjukkan pengelolaannya belum termanajemen dengan baik.

“Hasil observasi kami, di masa pandemi ini, tak ada fasilitas protokol kesehatan yang tersedia,” kata Farida.

Maka, meski wisata reliji di Bangkalan layak dijadikan City Branding, penelitian ini menyimpulkan masih jauh panggang dari api untuk sampai ke tahap itu.

Sebab, selain pembenahan manajemen, City Branding wajib didahului kajian ilmiah oleh tim ahli. Sementara manajemen yang baik tak hanya meningkatkan pendapatan asli daerah, tapi juga bisa meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar lewat penjualan kerajinan dan kuliner khas. EMBE

Rabu, 18 November 2020, buku 121 halaman itu dibedah dalam sebuah FDG di Hotel Yello Surabaya. Dengan pembedah, Adi Wicaksono, Staf Ahli Platform Kebudayaan Indonesiana 2020, Dirjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »