SURABAYA| FIKOM NEWS – Di tengah deru mesin kendaraan yang melintasi kawasan Ngagel, Surabaya, terdapat sebuah dunia yang bergerak lebih lambat. Di sana, di antara ribuan nisan yang bisu di TPU Ngagel Rejo, seorang pria senja bernama Namu (60) telah menghabiskan sebagian besar hidupnya bukan untuk mengejar hiruk pikuk kota, melainkan untuk merawat masa lalu.
Puluhan tahun lamanya, ia mengabdikan diri sebagai perawat makam, menjadi saksi bisu ribuan perpisahan, dan tetap setia menjaga keasrian gundukan tanah meski raga tak lagi muda.
Namu merupakan sosok di balik rapinya nisan-nisan di pemakaman padat tersebut. Setiap hari, ia bekerja di bawah terik matahari, mengandalkan kerelaan ahli waris atau sekadar kepuasan batin saat melihat makam yang dirawatnya tampak asri.
Baginya, setiap nisan yang ia bersihkan bukan sekadar batu bisu, melainkan simbol martabat manusia yang harus tetap dijaga. Kesadaran akan kematian yang bisa datang kapan saja menjadi lentera bagi langkahnya.
“Ya namanya mati itu tidak ada yang tahu kapan, bisa sekarang, nanti atau besok,” ujarnya saat merenungi hakikat tempat yang ia jaga setiap hari.
Motivasi yang menggerakkan Namu melampaui sekadar urusan materi. Meski ia menerima imbalan sukarela, sering kali Namu merawat makam-makam yang tak lagi dikunjungi keluarga. Tanpa ada yang memerintah, ia mencabuti belukar yang menutupinya dan menyapu dedaunan kering di atasnya.
Sisihumanis inilah yang menjadi pembeda; Namu bekerja dengan rasa kepemilikan yang tinggi, seolah setiap jenazah yang terkubur di sana adalah bagian dari tanggung jawab moralnya.
Cara Namu bertahan di tengah gempuran zaman memperlihatkan keteguhan prinsip yang jarang ditemukan.
Disaat sektor pekerjaan lain menawarkan kenyamanan teknologi, Namu memilih bergelut dengan tanah dan aroma kamboja. Ia memahami betul kontur tanah Ngagel Rejo dan hafal letak blok-blok pemakaman di sana. Hubungannya dengan kematian tidak lagi dilandasi rasa takut, melainkan rasa syukur atas kesehatan yang masih ia miliki.
“Bersyukur saja masih diberi kesehatan dan keselamatan sama Allah,” kata beliau dengan nada bicara yang tenang.
Kisah Namu memberikan perspektif berbeda tentang arti kesetiaan. Di sebuah kota metropolis yang sering kali melupakan sosok-sosok kecil, Namu adalah pahlawan sunyi yang membuktikan bahwa pekerjaan paling sederhana sekalipun, jika dilakukan dengan ketulusan hati, akan menjadi sebuah warisan nilai yang tak ternilai harganya.
Iatidak butuh panggung; baginya, menjalankan amanah merawat makam adalah bentuk ibadah yang ia jalani dengan ikhlas.
Hingga hari ini, di bawah rimbunnya pohon kamboja, Namu tetap melangkah perlahan namun pasti di antara sela-sela nisan. Tubuhnya mungkin mulai membungkuk dimakan usia, namun semangatnya merawat sunyi tak pernah luntur.
Iaadalah penjaga terakhir dari sebuah memori, sosok yang memastikan bahwa mereka yang telah tiada tidak benar-benar hilang ditelan semak belukar.
Ditangan Namu, TPU Ngagel Rejo bukan sekadar tempat kesedihan, melainkan sebuah taman kenangan yang dirawat dengan penuh kasih sayang.












