Surabaya, Fikom News – Mata uang Iran, rial, terus mengalami penurunan tajam dan menyentuh titik terendah sepanjang sejarah pada Januari 2026. Nilai tukar dolar AS mencapai sekitar 1,47 juta rial di pasar tidak resmi, menandai keruntuhan drastis yang memicu keresahan sosial di seluruh negara.
Depresiasi rial yang berkelanjutan ini bukan fenomena baru, namun kecepatan pelemahan selama 2025 menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Rial kehilangan sekitar 45 persen nilainya sepanjang tahun 2025, mengikis daya beli masyarakat dan menghancurkan kepercayaan terhadap sistem keuangan domestik.
Inflasi Melumpuhkan Daya Beli Rakyat
Situasi ekonomi Iran semakin memburuk dengan tingkat inflasi yang mencapai angka kritis. Tingkat inflasi pada Desember mencapai 42,2 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, mengunci Iran sebagai negara dengan inflasi tertinggi di dunia.
Harga pangan dan kebutuhan pokok mengalami lonjakan yang sangat signifikan. Harga makanan naik 72 persen dan barang kesehatan melonjak 50 persen dibanding Desember tahun lalu, memaksa jutaan keluarga Iran berjuang memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Pemerintah mengumumkan bahwa harga barang-barang pokok diperkirakan akan naik 20 hingga 30 persen dalam beberapa minggu mendatang, dengan kenaikan lebih tajam untuk ayam, telur, dan minyak goreng, menyusul keputusan menghentikan subsidi dolar untuk impor barang esensial.
Protes Meluas ke Seluruh Negeri
Krisis ekonomi yang memburuk memicu gelombang demonstrasi terbesar dalam tiga tahun terakhir. Pedagang dan pemilik toko berdemonstrasi di Jalan Saadi di pusat kota Teharan serta kawasan Shush dekat Pasar Besar Teharan, yang memainkan peran krusial dalam Revolusi Islam 1979.
Protes tidak hanya terjadi di ibu kota. Pada 31 Desember, pemerintah mengumumkan ‘hari libur’ dengan menutup semua kantor dan sekolah, namun demonstrasi terus menyebar hingga mencapai 17 dari 31 provinsi Iran. Pekerja sektor minyak dan anggota serikat pengemudi truk turut bergabung dalam aksi mogok kerja.
Pada 28 Desember 2025, toko-toko yang menjual elektronik dan ponsel di pusat Teharan menutup pintu mereka sebagai bentuk protes terhadap lonjakan tajam harga dolar dan emas serta volatilitas ekstrem rial.
Akar Krisis Multidimensi
Para ekonom menunjuk pada kombinasi berbagai faktor yang menciptakan siklus krisis berkelanjutan. Sanksi internasional yang membatasi akses Iran ke pasar keuangan global dan cadangan devisa menjadi penyebab utama.
Bank Dunia memproyeksikan PDB Iran dapat menyusut 1,7 persen pada 2025 dan tambahan 2,8 persen pada 2026, mengutip pembatasan perdagangan, investasi yang lemah, dan tekanan pada keuangan publik.
Masalah struktural juga turut berkontribusi. Industri yang didominasi negara, investasi asing yang terbatas, infrastruktur yang menua, dan kelangkaan air kronis telah memberatkan produktivitas dan ekspor non-minyak.
Ketidakpastian geopolitik semakin memperburuk kondisi. Ketegangan dengan Israel dan kemungkinan konfrontasi yang lebih luas dengan melibatkan Amerika Serikat menambah kecemasan pasar. Pada September lalu, PBB memberlakukan kembali sanksi terkait nuklir terhadap Iran, yang kembali membekukan aset Iran di luar negeri dan menghentikan transaksi senjata.
Gubernur Bank Sentral Mengundurkan Diri
Sebagai respons atas krisis yang memburuk, televisi negara melaporkan pengunduran diri Mohammad Reza Farzin, kepala Bank Sentral. Ketika ia menjabat pada 2022, rial diperdagangkan sekitar 430.000 terhadap dolar, menunjukkan betapa drastisnya kemerosotan nilai mata uang selama masa kepemimpinannya.
Presiden Iran mengadakan pertemuan dengan pedagang pasar dan berjanji akan mengambil langkah-langkah untuk meringankan kesulitan ekonomi rakyat. Namun, hakim-hakim senior mengambil sikap garis keras dan memperingatkan bahwa demonstran akan menghadapi penuntutan.
Sebagai upaya mengatasi krisis terburuk sejak 1979, pemerintah Iran meluncurkan sistem kupon makanan bulanan pada Januari untuk membantu rakyat menghadapi harga yang meroket dan mata uang yang terus melemah.
Redenominasi: Hanya Tambal Sulam?
Pada Oktober 2025, parlemen Iran menyetujui rencana untuk menghapus empat angka nol dari rial dengan periode persiapan dua tahun dan transisi tiga tahun di mana uang lama dan baru akan beredar bersamaan. Namun para analis memperingatkan bahwa langkah ini hanyalah “reset” sementara di atas kertas dan tidak menyelesaikan tantangan ekonomi mendasar seperti inflasi, pertumbuhan yang lemah, dan akses terbatas terhadap mata uang asing.
Krisis ekonomi Iran yang mendalam ini menandai titik kritis bagi masa depan negara, dengan indikator ekonomi menjadi ukuran sentral dari kapasitas negara dan kepercayaan publik. Konvergensi pedagang, mahasiswa, pekerja minyak, dan pengemudi truk dalam gelombang protes menunjukkan tanda yang sangat mengkhawatirkan bagi rezim, yang kini menghadapi tantangan ekonomi dan politik yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Revolusi 1979.












