Artikel

Komunikasi BMKG

243
×

Komunikasi BMKG

Sebarkan artikel ini

HARLIANTARA*

ARTIKEL – Hari meteorologi sedunia pada 23 Maret diperingati seluruh bangsa di dunia setiap tahunnya tahun ini merupakan peringatan ke-72 mengangkat tema peringatan dini dan tindakan dini. Informasi hidrometeorologi dan iklim untuk pengurangan risiko bencana.

Peringatan sangat relevan dengan kejadian bencana yang sering terjadi di negeri ini agenda peringatan tingkat nasional diwakili badan meteorologi klimatologi dan geofisika BMKG. Bagi BMKG Tahun 2022 merupakan tahun ketiga dalam pelaksanaan rencana strategis BMKG tahun 2020-2024 dan sesuai dengan road map BMKG bahwa tahun ini BMKG akan meningkatkan akurasi resolusi response time, perluasan jangkauan diseminasi pengembangan melalui penguatan big data dan Artificial Intelligent (AI) untuk mendukung layanan BMKG serta penguatan organisasi dan Smart SDM.

Peringatan Hari meteorologi sedunia merupakan momentum untuk membenahi pusat jaringan komunikasi BMKG agar peringatan dini dan penanganan bencana bisa di komunikasikan dengan baik untuk semua pihak. Selama ini pusat jaringan komunikasi BMKG memiliki tupoksi membangun dan mengelola sistem komunikasi dan internet yang terjamin keamanan datanya dan terjamin kualitas datanya di bidang meteorologi klimatologi dan geofisika.

Baca Juga : Sambut Era Metaverse, Ini yang Harus Disiapkan

Kondisi arsitektur dari pusat jaringan komunikasi BMKG saat ini sudah cukup memadai karena sudah memperhatikan pengaturan jaringan untuk jangka panjang. Proses koneksi pun menggunakan beberapa internet service provider (ISP) yang saling mendukung. Kondisi geografis dan padatnya pengamatan yang menjadi tugas dan tanggung jawab BMKG mengharuskan badan ini mempunyai bermacam jaringan komunikasi sesuai dengan kebutuhannya dan pada akhirnya sistem itu harus terintegrasi.

Unsur yang tidak kalah pentingnya dalam sistem informasi ini dan peringatan dini BMKG adalah sistem diseminasi. Informasi dan peringatan dini harus segera disampaikan pada masyarakat yang terancam agar segera menyelamatkan diri. Sistem komunikasi dari BMKG ke masyarakat disusun melalui rangkaian jaringan beberapa sistem komunikasi audio atau teks bentuk informasinya juga disusun dengan format atau bunyi tertentu agar dapat dimengerti secara benar agar dilakukan tindakan tepat.

Kondisi geografis Indonesia sangat rentan terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir, cuaca ekstrim, badai dan tanah longsor. Perlu mewujudkan ketahanan nasional komunikasi massa yang efektif dan ketangguhan sosial untuk menghadapinya. Pihak daerah yang mengalami bencana selama ini meminta BMKG agar terus mengintensifkan Virtual Crisis Center. Komunikasi pengolahan data penyebarluasan data dan informasi serta konsultasi dengan pusat dan Balai dilakukan virtual.

Baca Juga : Obral Data Pribadi di Saat Pandemi

Peringatan Hari meteorologi diharapkan menjadi Event Komunikasi Massa yang efektif untuk mengantisipasi datangnya bencana. Dibutuhkan inovasi terkait dengan penyempurnaan sistem mitigasi bencana alam yang berbasis lokalitas (daerah) yang melibatkan SDM ahli dan teknologi terkini. Seluruh dunia sangat serius memberi perhatian terhadap aspek meteorologi aspek itu termasuk cara efektif membantu pemerintah daerah hingga tingkat desa atau kelurahan yang selama ini belum mampu bekerja secara analitis untuk membaca dan mengolah informasi BMKG dan peta geospasial.

Perlu panduan yang komunikatif agar dapat digunakan oleh fasilitator hingga tingkat desa. Panduan itu juga dilengkapi dengan praktik-praktik fasilitasi desa bencana. Konten panduan termasuk jenis peringatan dini yang dapat dijadikan rujukan bersama sebagai pertanda waktu yang tepat untuk menyelamatkan diri jika terjadi bencana. Peringatan yang dimaksud dapat berupa tanda-tanda alam atau pengingat dari instansi pemerintah seperti BMKG bpptkg Dinas Kehutanan BPBD dinas kesehatan dan lain-lain berwenang seringkali gagal karena berbagai sebab seperti ancaman berskala mikro hingga luput dari pantauan bisa juga peringatan dini oleh lembaga berwenang gagal menjangkau desa-desa terpencil karena tidak Tersedianya infrastruktur atau teknologi.

Beberapa kasus juga menunjukkan rantai komunikasi atau penyampaian peringatan dini terlalu panjang atau berjenjang sehingga telat sampai di masyarakat. Pemerintah desa perlu membuat rencana penanggulangan bencana (RPB) dan rencana aksi komunitas (RAK). Keduanya merupakan dokumen yang tidak terpisah dari dokumen perencanaan desaRPB adalah rencana prioritas bagi usaha masyarakat desa untuk melindungi warganya dari ancaman dan risiko bencana. RPB inilah yang diturunkan dalam RAK atau sering disebut rencana aksi masyarakat (RAM) yang membuat rencana aksi atau dukungan yang dilakukan berbagai pihak di semua tahapan atau siklus penanggulangan bencana yang terdiri atas prabencana saat bencana dan pascabencana.

Sebagaimana dokumen perencanaan desa RPB maupun RAK dibuat secara partisipatif dalam musyawarah desa dokumen inilah yang menjadi rujukan bagi penyusunan RPJM Desa maupun RKP desa. RPB juga berisi rencana kontijensi (renkon), pedoman umum untuk melakukan simulasi; sebagai uji praktik dari sistem peringatan dini (SPD) dan rencana evakuasi. Simulasi itu sekaligus bahan pembelajaran dan pembiasaan masyarakat dalam menghadapi datangnya bencana.


*telah terbit di kolom Opini PikiranRakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel

Post Views: 339 Zulaikha* Artikel Fikom – Lie…

Translate »