Berita Umum

Hari Pers Nasional 2022, Menkominfo Dorong Transformasi Digital di Industri Media

279
×

Hari Pers Nasional 2022, Menkominfo Dorong Transformasi Digital di Industri Media

Sebarkan artikel ini

FIKOM NEWS – Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate mendorong agar pers juga beradaptasi dengan teknologi digital.

Menurut Johnny, di era digital, kemajuan teknologi seperti big data, artificial intelligence, dan metaverse dapat memperkaya kebutuhan data serta analisis untuk produksi dan distribusi konten industri media.

Hal itu seperti diungkapkan Johnny dalam Konvensi Nasional Hari Pers Nasional 2022: Membangun Model Media Massa yang Berkelanjutan, yang berlangsung secara hibrida dari Phinisi Room Hotel Claro, Kendari, Sulawesi Tenggara.

Johnny G. Plate (Menkominfo)

“Orientasi industri media yang baik akan tercermin dari jurnalisme yang berkualitas berbasiskan data, analisis dan pendekatan teoritis yang memadai,” Johnny pada Selasa kemarin, dikutip dari siaran pers, Rabu (9/2/2022).

Menkominfo mengatakan, dunia terus didorong untuk melakukan transformasi digital di tengah berbagai keterbatasan yang timbul akibat pandemi. Hal ini juga penting dilakukan insan pers demi menemukan model bisnis baru media.

“Perubahan besar yang diakibatkan oleh kemajuan teknologi digital menjadi orientasi, sekaligus solusi yang dapat menembus keterbatasan, memperluas perspektif dan jangkauan,” kata Johnny.

“Sekaligus mempercepat proses di berbagai lini kehidupan, tentunya termasuk di industri media,” imbuhnya yang hadir secara virtual.

Johnny mengutip laporan The New York Times, di mana disebutkan hampir sepertiga konten yang diterbitkan jurnalis Bloomberg News dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan atau robot reporter.

Hasil kerja itu memudahkan jurnalis berfokus pada konten yang berdasarkan riset serta data humanisme yang kuat.

Selain itu, The Huffington Post juga memanfaatkan big data sejak 2014 untuk mengoptimalisasi konten, mengautentikasi komentar, memastikan efektivitas iklan, dan mengatur penempatannya hingga membuat personalisasi pasif.

Johnny mengatakan, dengan begitu, artikel tersebut akan lebih optimal dibaca lebih banyak khalayak dalam waktu yang relatif singkat.

“Ini studi dari Reuters Institute. Salah satu praktik sederhananya, big data digunakan untuk menentukan timing yang paling tepat, untuk menerbitkan satu artikel maupun platform apa yang paling sesuai untuk digunakan dalam menyebarkan artikel tersebut,” ujarnya.

Kehadiran Metaverse

Ilustrasi Metaverse. (pexels.com/ThisisEngineering)

Menkominfo melanjutkan, perkembangan metaverse juga memungkinkan kemunculan model bisnis baru industri media.

Ia mengatakan di 2003, terdapat platform Second Life, yakni komunitas virtual online yang memungkinkan pengguna membuat avatar dan berinteraksi di dunia virtual.

Dalam sana, menurut Johnny, hadir The Second Life Environment, surat kabar daring yang memungkinkan pemilik dan pembuat bisnis virtual mengiklankan layanan atau produk mereka kepada konsumen di platform Second Life.

“Hal ini dilakukan melalui pembelian tempat iklan yang dapat diubah menjadi artikel dan siaran pers,” kata Johnny.

Menurutnya, di sana pendapatan akan diperoleh melalui pembayaran yang dilakukan via papan iklan yang terdapat di sport virtual perusahaan dengan mata uang yang berlaku pada platform tersebut.

 

Sumber : liputan6.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »