Artikel

Desa Penari Genjot Industri Film

234
×

Desa Penari Genjot Industri Film

Sebarkan artikel ini

Oleh : Harliantara *)

Artikel Fikom – Ada berkah besar terhadap industri film nasional. Film KKN di Desa Penari  membukukan rekor baru industri film nasional. Hingga medio Mei 2022,  film ini berhasil menyedot 6 juta penonton lebih dan bersiap menggeser film Dilan 1990 dari posisi kedua terlaris sepanjang sejarah.

Sekedar catatan, Dilan 1990 menyedot 6,3 juta penonton dan menembus posisi kedua dalam daftar film Indonesia terlaris sepanjang sejarah. Posisi pertama diraih Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss! Part 1 yang menyedot 6,85 juta penonton.

Setelah gedung bioskop mengalami paceklik berat akibat pandemi Covid-19, Film Desa Penari mampu menggairahkan dan menggenjot kinerja industri film nasional. Animo publik untuk mendatangi gedung bioskop meningkat. Trending topik media sosial dipenuhi oleh topik Film Desa Penari.

Film merupakan produk bernilai tambah tinggi hasil kolaborasi berbagai jenis seni dan sinergi antar profesi. Kondisi keberagaman di negeri ini adalah potensi besar bagi dunia film yang perlu sentuhan daya kreatifitas sehinga menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi.

Keragaman budaya adalah zamrud katulistiwa yang tidak pernah habis jika dijadikan produk yang bernilai ekononi. Kini film nasional mulai menggeliat. Saatnya menjadikan gedung bioskop sebagai rumah budaya yang berfungsi sebagai sarana hiburan dan juga menjalankan fungsi penguatan pendidikan dan kebudayaan. Gedung bioskop mestinya tidak sekedar tempat menonton film. Perlu memperluas fungsi gedung bioskop menjadi pasar dan pelatihan industri kreatif utamanya produk seni dan budaya.

Ekonomi kreatif akan terus tumbuh dan menimbulkan lapangan kerja yang luas. Untuk itu dibutuhkan tiga aspek yakni daya imajinasi, kreatifitas dan inovasi. Jika ketiganya ditumbuhkan bisa menumbuhkan industri kreatif dengan cepat.

Film nasional yang menggambarkan sisi kepribadian bangsa dan keragaman budaya mulai mendapatkan tempat di hati khalayak. Perlu mengembangkan SDM kreatif bidang film yang memiliki kompetensi kelas dunia. Animo pemuda lulusan SMA untuk belajar sinema ke luar negeri sangat besar. Karena prodi sinema di perguruan tinggi dan teknologi produksi film di luar negeri jauh lebih maju.

Untuk memfasilitasi animo tersebut diperlukan training dan konsultasi yang mampu mengarahkan yang bersangkutan dalam memilih perguruan tinggi di dalam dan luar negeri.

Kini SDM kreatif sektor perfilman menjadi soft power dalam mengembangkan nilai-nilai seni budaya bangsa dan menghasilkan nilai tambah ekonomi secara signifikan. SDM kreatif negeri ini sekarang kiprahnya sudah mendunia dan memiliki posisi penting di industri film global.

Tidak bisa dimungkiri film merupakan pembangkit imajinasi sosial yang hebat. Film juga memberikan gambaran potensi akal manusia yang tidak terbatas sehingga mampu membentuk imajiansi dan fantasi.

Kisah film Desa Penari menunjukkan bahwa potensi indigenous knowledge di negeri ini sangat potensial untuk diangkat ke layar bioskop. Potensi tersebut hingga kini belum terkelola secara baik dan perlu didokumentasikan lewat film.Science and Development Network di London telah mendefinisikan Indigenous Knowledge sebagai pengetahuan yang unik dalam suatu kebudayaan atau masyarakat tertentu. Cara terbaik untuk mengelola indigenous knowledge yang efektif adalah dengan solusi teknologi informasi terkini termasuk lewat film dokumenter maupun film bioskop.

Film merupakan industri kreatif yang memiliki prospek luar biasa serta dapat membuka lapangan kerja yang luas. Berbagai bidang profesi dan keilmuan berkolaborasi mendukung industri film. Pemerintah memiliki kewajiban untuk mengembangkan SDM industri kreatif tersebut sehingga tumbuh dan memiliki nilai tambah yang lebih baik.

Film mencerminkan kepribadian bangsa sehingga mesti dibenahi agar produknya tidak asal jadi. Apalagi teknologi industri film global pada saat ini berkembang secara pesat.

Dalam cetak biru pengembangan industri kreatif nasional, definisi dan lingkup subsektor industri film adalah  kegiatan  kreatif  yang  terkait dengan kreasi, produksi film dan distribusi. Rantai nilai  subsektor industri film terdiri  dari  dua jenis industri  utama,  yaitu  industri  produksi  film  yang  meliputi  rumah-rumah  produksi,  dan usaha  distribusi  film  yang  meliputi  gedung bioskop,  televisi,  layar independen maupun melalui aplikasi video lainnya.

Sebuah  perusahaan  produksi  film  biasanya  melingkupi  aktivitas  di  rantai  nilai yakni kreasi, produksi, dan komersialisasi. Aktivitas  utama kreasi meliputi:  penulisan  skenario, perencanaan produksi film (rencana biaya, waktu, lokasi, organisasi dan pemeran).

Aktivitas utama pada rantai produksi adalah proses syuting di lapangan dan aktivitas post production di laboratorium, sedangkan aktivitas utama komersialiasi adalah publikasi film. Ide  pembuatan  film  pada  rantai  kreasi  dapat  dimulai  dari  ide-ide  kreatif  suatu  rumah produksi, atau karena keharusan memenuhi kontrak  terhadap  suatu  chanel distribusi.

Rasio jumlah penduduk Indonesia, idealnya jumlah layar bioskop di Indonesia mencapai sembilan ribu hingga 15 ribu layar. Namun kenyataannya hingga sebelum pandemic Covid-19 hanya ada sekitar 1.300 layar. Perlu insentif sektor perfilman sehingga pengusaha bioskop bisa meluaskan bisnisnya hingga ke kota-kota kecil. Dibutuhkan alat pendukung berupa sistem pelaporan tiket bioskop terbaru atau Integrated Box Office System. Ini bisa mengadopsi sistem yang telah diterapkan di Korea Selatan.

Data menunjukkan bahwa secara nasional konsentrasi distribusi film masih didominasi oleh wilayah Jabodetabek yang  mencapai  70 persen dari  total  bioskop  nasional.  Dengan data diatas berarti masih  banyak  potensi  pasar  di daerah yang  belum digarap.


*) Dekan Fikom Unitomo Surabaya, praktisi penyiaran.

Tulisan ini telah terbit di Jawa Pos pada hari Senin, 23 Mei 2022.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel

Post Views: 384 Zulaikha* Artikel Fikom – Lie…

Translate »