Malang | Fikom News — Langit Surabaya masih berselimut gelap ketika jarum jam baru menunjuk pukul 04.00 WIB. Udara pagi yang dingin di Stasiun Gubeng dan Wonokromo tak menyurutkan langkah para mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) angkatan semester enam. Dengan ransel di punggung dan kamera di tangan, mereka bersiap memulai sebuah perjalanan.
Bukan untuk sekadar liburan, melainkan untuk sebuah misi kreatif:
Praktik Lapangan Mata Kuliah Content Creator.
Tepat pukul 04.27 WIB, peluit kereta api berbunyi nyaring, membawa rombongan ini membelah fajar menuju Kota Malang. Di saat penumpang lain mungkin memilih untuk melanjutkan tidur, bagi para mahasiswa ini, proses kreatif justru baru saja dimulai. Di dalam gerbong kereta yang melaju, mereka mulai membidik footage sinematik, menjadikan jendela kereta dan hiruk-pikuk penumpang sebagai elemen storytelling visual yang puitis.
Merangkai Rasa di Pasar Klojen
Udara sejuk Kota Apel menyapa ketika rombongan tiba di Stasiun Malang pukul 07.30 WIB. Setelah briefing singkat yang menyatukan visi, mereka langsung bergerak menuju destinasi pertama: Pasar Klojen.

Dari pukul 08.15 hingga 11.00 WIB, pasar tradisional ini menjadi kanvas hidup bagi para mahasiswa. Tujuan mereka di sini adalah mengeksplorasi genre human interest. Di sela-sela los sayuran dan kepulan asap dari kedai sarapan, lensa kamera mereka sibuk menangkap dinamika sosial yang otentik. Tawar-menawar antara pedagang dan pembeli, kerutan di wajah para pekerja keras, hingga tawa renyah warga lokal, semuanya diabadikan menjadi narasi visual yang bercerita tentang denyut nadi kehidupan rakyat.
Kayutangan Heritage
Matahari mulai condong ke barat ketika rombongan bergeser ke jantung estetika Kota Malang, Kawasan Kayutangan Heritage, tepat pada pukul 13.25 WIB.
Memasuki kawasan ini seolah melangkah masuk ke dalam lorong waktu. Perpaduan harmonis antara jejak arsitektur kolonial Belanda dan kehidupan masyarakat lokal menyajikan pesona yang memanjakan mata. Fasad bangunan-bangunan tua yang megah, deretan lampu jalan bernuansa klasik, hingga ornamen retro di sepanjang koridor pedestrian menjadi objek sempurna untuk street photography.
“Menyusuri lorong-lorong perkampungannya seakan membawa pengunjung melintasi lorong waktu dengan nuansa nostalgia yang kental.”
Selama kurang lebih dua jam, suara shutter kamera saling bersahutan. Tata ruang bergaya vintage dimanfaatkan secara optimal oleh para mahasiswa untuk menangkap sense of place yang kuat, memadukannya dengan teknik videografi sinematik demi menghasilkan karya digital yang berkelas.

Pukul 16.00 WIB, seluruh agenda pengambilan gambar akhirnya rampung. Senyum lega menghiasi wajah para peserta yang tampak kelelahan namun puas. Setelah diberikan waktu luang untuk melepas penat dan menikmati suasana sore, mereka kembali berkumpul di Stasiun Malang pada pukul 18.30 WIB.
Perjalanan pulang dimulai pukul 19.48 WIB. Namun, apakah tugas mereka selesai? Belum.
Estimasi perjalanan selama 3,5 jam menuju Surabaya tidak dibiarkan terbuang sia-sia. dan meninjau ulang draf konten yang telah diproduksi hari itu. membuktikan dedikasi mereka sebelum kereta tiba di Surabaya pada pukul 22.16 WIB.
Lebih dari sekadar menggugurkan kewajiban akademik, perjalanan panjang ini adalah sebuah simulasi nyata. Praktik lapangan ini melatih calon jurnalis dan komunikator masa depan untuk tidak hanya fasih berteori di kelas, tetapi juga memiliki ketahanan fisik yang kuat, manajemen waktu yang presisi, serta kepekaan estetika yang tajam. Sebuah bekal esensial untuk menaklukkan industri digital yang terus bergerak dinamis.












