Surabaya, Fikom News – Pernah merasakan mata yang tiba-tiba sangat perih, leher menjadi kaku, dan pikiran mendadak stuck setelah berjam-jam menatap layar laptop atau smartphone? Jika iya, kamu tidak sendiri.
Fenomena ini adalah digital fatigue atau kelelahan digital. Hal ini semakin marak melanda mahasiswa, khususnya mereka yang berkuliah di jurusan Ilmu Komunikasi yang sangat lekat dengan dunia digital.
Sebagai mahasiswa, mereka harus selalu update dengan tren media sosial. Adanya pengerjaan tugas dengan basic multimedia, hingga publikasi di portal digital, paparan layar menjadi makanan sehari-hari. Mulai dari riset artikel online, mengedit video dan foto untuk tugas praktik, hingga mengikuti perkuliahan daring. Hampir seluruh aktivitas akademik bersumber pada perangkat digital. Namun, konsekuensi dari kemudahan tersebut ada harga yang harus di bayar. Yaitu kesehatan mental dan fisik yang mulai terkikis perlahan-lahan.
Digital fatigue adalah kondisi kelelahan mental dan fisik karena penggunaan perangkat digital secara berlebihan tanpa jeda yang cukup. Bagi mahasiswa Fikom Unitomo, kondisi ini sering kali diperparah oleh kebiasaan doomscrolling.
Istilah ini merujuk pada perilaku yang terus-menerus mengonsumsi berita atau konten media sosial secara obsesif tanpa henti. Lingkungan kampus Surabaya yang dinamis, tekanan untuk selalu “terhubung” membuat mahasiswa lupa bahwa otak manusia juga memiliki batasan kapasitas.
Shafa, mahasiswa Ilmu Komunikasi Unitomo angkatan 2023 mengatakan bahwa segala informasi bersumber pada hand phone, tapi banyak yang menyepelekan efeknya.
“Banyak teman-teman di kampus yang merasa kalau nggak pegang HP satu jam saja rasanya ada yang hilang (FOMO). Padahal, terus-menerus terpapar informasi justru bikin otak kita ‘panas’,” ujarnya.
Banyak mahasiswa tidak menyadari gejala digital fatigue. Mulai dari rasa cemas yang muncul saat melihat notifikasi dan sulit berkonsentrasi saat membaca buku fisik adalah dampak nyata dari kelelahan digital. Selain itu, timbul gangguan pola tidur akibat paparan blue light dari layar sebelum tidur juga menjadi masalah serius yang mengganggu produktivitas saat kuliah pagi. Belum lagi dampak fisik seperti Computer Vision Syndrome yang membuat penglihatan kabur dan kepala pening setelah seharian mengerjakan tugas praktik .
Untuk menjaga keseimbangan tubuh, ada beberapa langkah yang bisa diterapkan oleh mahasiswa tanpa harus meninggalkan dunia digital sepenuhnya :
- Terapkan 20-20-20: Setiap 20 menit menatap layar, istirahatkan mata dengan melihat benda berjarak 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik.
- Detox Digital : Cobalah untuk mematikan notifikasi aplikasi yang tidak mendesak setelah pukul 8 malam untuk memberikan waktu istirahat bagi sistem saraf.
- Lakukan Hobi dan Bersosialisasi: Manfaatkan waktu luang untuk melakukan hobi atau sekedar berdiskusi tatap muka di kantin tanpa gangguan gadget.
- Ciptakan Zona Bebas Gadget: Saat berkumpul dengan teman, cobalah untuk menyimpan ponsel di dalam tas agar interaksi sosial terasa lebih berkualitas dan nyata.
Menjadi generasi muda atau praktisi komunikasi masa depan memang menuntut kita untuk selalu terhubung dengan dunia siber. Namun, kesehatan mental adalah aset utama yang tidak bisa digantikan oleh teknologi apapun. Dengan mengenali batasan dan tahu kapan harus “mencabut kabel” dari dunia maya, kita tidak hanya menjadi mahasiswa yang cerdas secara digital. Tetapi juga pribadi yang sehat secara mental dan siap menghadapi tantangan industri media yang sesungguhnya.












