SURABAYA, ILKOM – Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) merespons Hari Disabilitas Internasional 2025 dengan inisiatif experiential learning yang mendalam.
Sebanyak 30 mahasiswa baru diwajibkan menjalani tantangan Silent Journey sebagai langkah awal menuju pemahaman komunikasi inklusif dan nonverbal. Kegiatan edukasi lapangan ini berlangsung di acara “Warna-Warni Tanpa Suara: Tutur Mata x Tutur Rasa” pada Selasa, (2/12/25).
Tema besar peringatan ini, “Mewujudkan Masyarakat yang Ramah dan Inklusif bagi Penyandang Disabilitas demi Mendorong Kemajuan Sosial,” menjadi landasan bagi FIKOM Unitomo untuk memperkaya kurikulumnya dengan praktik langsung.
Tantangan “Silent Journey” merupakan inti dari pembelajaran ini. Mahasiswa diinstruksikan melakukan perjalanan menuju lokasi tanpa menggunakan bahasa verbal, memaksa mereka mengandalkan gestur, ekspresi wajah, dan interpretasi situasi. Dosen pendamping, Widya Desary Setia Wardhani, S.Psi., M.I.Kom., menjelaskan, latihan singkat tersebut dirancang untuk memberikan “fragmen” pengalaman keseharian komunitas Tuli.
“Pengalaman seperti Silent Journey memberi mahasiswa bukan hanya pengetahuan, tetapi juga sensitivitas, empati, dan kepekaan yang tidak ditemukan di ruang kelas,” tegas Widya, menambahkan bahwa kemampuan memahami pesan nonverbal adalah kompetensi global di era digital saat ini.
Setibanya di lokasi, mahasiswa disuguhkan rangkaian acara yang fokus pada komunikasi visual dan isyarat. Mereka mengikuti bedah buku fotografi “Tutur Mata: Jejak Visual Menuju Pentas Global” untuk memahami kekuatan narasi tanpa lisan.
Puncak kegiatan adalah sesi talkshow bersama fotografer disabilitas, barista Tuli dari Tutur Rasa, serta perwakilan Kita Setara Foundation. Sesi ini menjadi momen krusial di mana komunikasi verbal dihentikan, digantikan oleh bahasa isyarat dan penerjemah.
Beberapa mahasiswa dilaporkan menangis karena tersentuh oleh kisah hidup dan perjuangan para penyandang disabilitas. Kehadiran penerjemah bahasa isyarat membuat peserta lebih fokus memperhatikan detail gestur, ekspresi, dan ritme komunikasi visual komunitas Tuli.
Mahasiswa Komunikasi Angkatan 2025, Sukma, mengakui dampak emosional dari tantangan ini.
“Silent Journey susah banget bingung, tapi begitu ketemu teman-teman Tuli, langsung klik: mereka hidup di ‘silent mode’ setiap hari. Empati langsung muncul. Sekarang saya tahu cara berinteraksi yang benar: pakai hati, sabar, dan isyarat yang tulus,” ujar Sukma.
Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Komunikasi Unitomo, Dr. Didik Sugeng, M.Si., menekankan bahwa inisiatif ini memperkuat posisi akademik fakultas.
“Ini adalah wujud komitmen kami untuk mencetak lulusan yang cerdas dan berempati. Experiential learning seperti ini memperkuat kurikulum sekaligus menunjukkan kepada publik bahwa Unitomo serius menjawab isu inklusi dan keberagaman,” kata Dr. Didik.
Kegiatan ini turut mendapat dukungan dari industri perhotelan, diwakili oleh Donny Manuarva, Corporate General Manager Midtown Hotels Indonesia, yang menunjukkan komitmen sektor swasta terhadap inklusi. Kus Andi, Head of PR Midtown Hotels Indonesia, berharap mahasiswa dapat mengambil pelajaran tentang “willingness” keinginan tulus untuk menggandeng dan memberdayakan komunitas disabilitas.
Rangkaian ditutup dengan pengenalan dasar bahasa isyarat, yang memberikan pemahaman praktis tentang pembangunan komunikasi inklusif yang berlandaskan kedekatan dan kemauan beradaptasi.
Melalui pengalaman Warna-Warni Tanpa Suara, Fakultas Ilmu Komunikasi Unitomo menegaskan komitmennya untuk mencetak komunikator profesional yang tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga sensitif, inklusif, dan siap menjadi agen perubahan dalam mendorong gerakan keberagaman di Indonesia.












