Pembatalan konser DAY6 di Jakarta Desember 2024 memicu gelombang kekecewaan besar di kalangan MyDay. Ribuan penggemar sudah menunggu penampilan grup asal Korea Selatan itu, sayangnya rencana konser tiba-tiba berakhir tanpa panggung.
Setelah pengumuman pembatalan keluar, protes langsung membanjiri media sosial. Penggemar mendesak promotor Mecimapro memberikan penjelasan dan mempercepat proses refund tiket.
Situasi semakin panas karena progres pengembalian dana berjalan sangat lambat. Sistem refund dianggap tersendat, tanpa jadwal jelas, sehingga membuat penggemar semakin frustrasi.
Spekulasi cepat menyebar. Beberapa pihak bahkan menuding CEO Mecimapro, Fransisca Melani Handoko atau Chica, menghindar dari tanggung jawab dan melarikan diri.
Menanggapi polemik itu, Mecimapro merilis pernyataan resmi. Promotor menegaskan Chica tidak kabur dan menyatakan proses hukum yang sedang ia jalani menghambat kelancaran refund.
Drama memuncak ketika surat terbuka dari Chica beredar di publik. Ia mengirimkan surat tersebut dari balik jeruji penjara dan menuliskannya langsung untuk MyDay.
Dalam surat itu, Chica meminta maaf atas tertundanya pengembalian dana. Ia mengakui persoalan hukum yang ia jalani mengacaukan alur refund dan membuat semuanya melewati batas waktu.
Chica juga menegaskan bahwa ia sudah meminta perlindungan dan bantuan mediasi dari Kemenparekraf untuk mempercepat penyelesaian kewajiban refund kepada para pembeli tiket.
Kasus DAY6 menjadi peringatan bagi industri konser di Indonesia. Publik kini menuntut promotor lebih transparan dan memastikan tanggung jawab finansial kepada penonton tetap menjadi prioritas.
Sementara proses hukum Chica terus bergulir, komunitas MyDay hanya menunggu satu hal, yaitu realisasi refund secara penuh. Tekanan publik kini mengarah pada komitmen Mecimapro untuk menyelesaikan kewajiban tanpa penundaan lagi.












