Artikel

LIE DETECTOR

382
×

LIE DETECTOR

Sebarkan artikel ini
Sumber Foto :Pinterest

Zulaikha*

Artikel Fikom – Lie detector atau alat untuk menguji kebohongan biasa digunakan dalam penyidikan suatu kasus hukum. Cara kerja alat ini adalah dengan melihat detak jantung, denyut nadi, serta perubahan fisik. Apabila orang yang sedang diperiksa mengatakan sesuatu yang benar, detak jantung dan denyut nadi akan berjalan secara normal. Namun apabila dia berbohong, maka akan ada perubahan fisik dari detak jantung atau denyut nadi.

Bagi orang komunikasi, tidak perlu memakai lie detector untuk mengetahui seseorang sedang berbohong atau tidak. Cukup hanya dengan memperhatikan gesture, ekspresi, intonasi suara, pupil mata dan ….. taraaaaa…. anda ketahuan berbohong. Semudah itukah? Ya, semudah itu. Tapi tentu membutuhkan bertahun-tahun pengalaman untuk bisa menentukan dengan tepat seseorang sedang berbohong atau tidak.

Ilmu komunikasi mengajarkan kita bagaimana membaca bahasa tubuh dengan tepat. Jika kita mempelajarinya dengan seksama, kita tidak hanya bisa membaca bahasa tubuh orang lain, tapi kita juga bisa mengontrol bahasa tubuh kita sendiri untuk keperluan tertentu. Untuk menyamarkan kebohongan atau untuk keperluan dramaturgi. Sebagaimana mata pisau, ilmu ini bisa digunakan untuk tujuan positif maupun negatif. Kita bisa menjadi aktor yang jago akting, orator ulung, atau pembohong kelas kakap. Tentu harus dibedakan antara berbohong yang disengaja dengan berbohong karena ‘sakit’. Yang terakhir ini bisa dibilang tidak bisa mengontrol dirinya sendiri untuk selalu berbohong meski dia sadar orang lain mengetahui bahwa dia bohong.

Berbohong menimbulkan tenggorokan mengering. Itu sebabnya seseorang yang sedang melakukan kebohongan akan lebih sering minum ketika berbicara. Ia juga akan sering menggigit atau membasahi bibirnya sendiri. Para pembohong juga akan berusaha membuka matanya. Secara alamiah, sebetulnya seseorang yang sedang berbohong akan menghindari kontak mata dengan orang yang dia ajak bicara. Tapi karena dia ingin tidak ketahuan, maka dia berusaha banget agar matanya tetap terbuka dan melakukan kontak mata. Jangan salah, usaha ini akan menimbulkan guratan ketegangan disekitar mata, dan membuat kerutan jadi mendadak terlihat banyak.

Pembohong juga akan berusaha mengendalikan gerakannya ketika berbicara. Memiringkan kepala menjadi salah satu cara manipulatif agar orang lain percaya pada omongannya. Gerakan memiringkan kepala ini biasanya tidak diikuti dengan gerakan memiringkan badannya, sehingga badan masih tetap berusaha untuk menghadap lawan bicara. Itu sebabnya gesture pembohong jadi nampak kaku. Intonasi, kecepatan berbicara, dan susunan kata yang cenderung tidak sistematis atau berputar-putar ketika berbicara juga menjadi salah satu pertanda.

Kalau anda benar-benar mempelajari komunikasi antar persona, anda dengan mudah mengetahui lawan bicara anda berbohong atau tidak. Jika sudah advance, anda bahkan bisa mengetahui kebohongan seseorang hanya dari tulisan pada pesan pendek di media sosial. Tidak masalah anda tidak bertatap muka dengannya ketika berkomunikasi, kebohongan tetap bisa terdeteksi.

Jadi, hati-hati jika hendak berbohong. Lie detector ada pada intuisi dan pengalaman yang dipunyai orang-orang dengan kemampuan ilmu komunikasi yang tinggi, apalagi jika ditambah punya jaringan interaksi dengan banyak kalangan masyarakat. Maka, tidak perlu lah berbohong…. Orang jujur hidupnya akan lebih mujur. Percaya deh….

 

*Akademisi Universitas Dr. Soetomo Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »