Artikel

BRANDING MUSEUM

335
×

BRANDING MUSEUM

Sebarkan artikel ini

Oleh ; Zulaikha*

ARTIKEL – Tahukah anda berapa jumlah museum yang ada di kota tempat tinggal anda? Sudah pernahkah anda mengunjungi museum di kota anda, diluar kunjungan program sekolah? Kalau jawabnya tidak tahu dan belum pernah, maka anda tidak sendiri. Banyak dari masyarakat kita yang bahkan tidak tertarik untuk mengunjungi museum.

Museum, selain menjadi tempat menyimpan peninggalan sejarah dan kebudayaan, juga bisa menjadi tempat edukasi, itu pasti. Dengan branding seperti itu, masyarakat jadi berpikir : mengapa saya harus meluangkan waktu di hari libur/waktu luang saya untuk belajar dan berpikir lagi, padahal saya ingin bersantai. Istilah jaman sekarang, healing….. pengin healing nih….

Healing tidak harus di pantai, pegunungan, villa dengan pemandangan sawah, atau jalan-jalan di mall. Kalau mall yang notabene tempat berbelanja bisa disulap dan dibranding menjadi tempat healing, tempat rekreasi keluarga, maka harusnya museum juga bisa disulap dan dibranding menjadi tempat healing, tempat rekreasi untuk menyegarkan pikiran setelah terjebak dalam rutinitas sehari-hari.

Dari data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2020 diketahui jumlah museum di Indonesia sebanyak 439 museum, yang tersebar di seluruh provinsi. Provinsi Jawa Timur bahkan diketahui memiliki museum terbanyak di Indonesia. Dari angka itu, tidak semua museum dimiliki oleh pemerintah (baik kementerian maupun pemerintah kota/kab/prov), kebanyakan justru dimiliki oleh pihak swasta atau bahkan perseorangan. Banyak jenis museum, yang bisa dikategorisasikan dari benda-benda yang disimpan dan menjadi koleksi museum tersebut. Karena perkembangan museum terjadi beriringan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kehidupan masyarakatnya, maka jenis museum pun berkembang seiring dengan hal tersebut. Semakin hari, manusia semakin membutuhkan data, bukti otentik dan catatan sejarah perjalanan hidup manusia itu sendiri, dan itu bisa di dapatkan di museum. Maka, tahukah anda bahwa di Bali terdapat Museum Marketing 3.0? Tahukah anda berapa museum tentang wayang yang ada di wilayah pulau Jawa?

Saya pernah mendatangi museum Serangga di Jawa Tengah, yang isinya beraneka koleksi serangga dari yang paling kecil sampai yang paling besar, termasuk kupu-kupu yang diawetkan. Saya juga mendatangi museum angkut di Jawa Timur, museum wayang di beberapa daerah, museum Trinil tempat kita bisa melihat peradaban manusia purba di tempat mereka di temukan, bahkan museum yang menandai bencana, seperti museum Merapi di Yogyakarta dan museum Tsunami di Aceh. Yang paling sering ditemui memang bangunan bersejarah yang kemudian dijadikan museum seperti benteng Vredeburg di Yogyakarta atau benteng Fort Rotterdam di Makassar.

Dari semua kunjungan museum (yang sudah lupa, museum apa saja yang pernah saya datangi), ada beberapa hal yang menjadi catatan saya. Misalnya, meski museum-nya keren abis, tapi mengapa kebanyakan memilih untuk menggunakan penerangan yang temaram, sehingga menyulitkan pengunjung untuk berfoto disitu. Padahal, dijaman sekarang, memberikan fasilitas ruangan/dekorasi yang bisa dijadikan spotfoto untuk diunggah di media sosial milik pengunjung adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditolak. Yang saya rasakan, masuk museum memang kemudian memaksa kita untuk belajar dan berpikir, bukan rekreasi. Keluar dari museum, pengetahuan kita bertambah, tapi belum tentu merasa terhibur. Apa ini ya yang membuat masyarakat enggan berwisata ke museum?

Branding museum sebagai salah satu destinasi wisata memang belum dibangun secara maksimal, atau mungkin kurang efektif. Sepertinya penelitian tentang wisata museum harus dilakukan agar mendapatkan data dan bisa menganalisis dengan tepat, mengapa museum belum berhasil menjadi destinasi wisata yang mendatangkan banyak pengunjung.

Tapi, sebelum melakukan penelitian, ada baiknya anda buktikan dulu tulisan saya ini. Betulkah setelah mendatangi museum, kita tidak merasa seperti telah mendatangi tempat wisata? Selamat ber-wisata museum.

Surabaya, 7 Mei 2022


*Dosen Fikom Unitomo dan Peneliti Komunikasi Pariwisata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel

Post Views: 363 Zulaikha* Artikel Fikom – Lie…

Translate »