Surabaya, FikomNews – Di tengah hiruk-pikuk pembangunan infrastruktur dan cuaca panas yang menyengat, Kota Surabaya terus berupaya memperluas zona hijau bagi warganya. Salah satu titik yang kini menjadi sorotan utama adalah Kebun Bibit Wonorejo, sebuah kawasan yang bertransformasi dari lahan pembibitan menjadi pusat edukasi sekaligus rekreasi yang vital bagi ekosistem kota.
Kebun Bibit Wonorejo bukan sekadar taman kota biasa. Dengan luas mencapai puluhan hektar, kawasan ini berfungsi sebagai “paru-paru” yang menyaring polusi kendaraan bermotor di wilayah Surabaya Timur. Keberadaannya membuktikan bahwa industrialisasi dan kelestarian alam dapat berjalan beriringan jika dikelola dengan visi jangka panjang yang jelas.
Keanekaragaman Hayati dan Edukasi
Berbeda dengan taman pada umumnya, Kebun Bibit Wonorejo menawarkan pengalaman interaksi langsung dengan alam. Pengunjung tidak hanya disuguhi deretan pohon rindang seperti Trembesi dan Mahoni, tetapi juga dapat berinteraksi dengan satwa peliharaan seperti rusa dan berbagai jenis burung. Hal ini sejalan dengan fungsi RTH yang diamanatkan undang-undang, yakni sebagai ruang sosial sekaligus pelindung keanekaragaman hayati.
”Ke sini bukan cuma buat foto-foto, tapi anak-anak bisa belajar kasih makan rusa. Udaranya juga jauh lebih segar dibanding kalau kita di pinggir jalan protokol,” ujar Kurniawan, salah satu pengunjung asal Rungkut, Rabu (28/1).
Komitmen Lingkungan dan Tantangan ke Depan
Pemerintah Kota Surabaya terus berkomitmen untuk mencapai target luas RTH sebesar 30 persen dari total luas wilayah. Kebun Bibit Wonorejo menjadi standar (benchmark) bagi pengembangan taman-taman baru di Surabaya. Pengelolaannya kini melibatkan sistem drainase yang terintegrasi dengan boezem (waduk mini) di sekitarnya, yang berfungsi mencegah banjir sekaligus menjaga ketersediaan air tanah.
Namun, keberlanjutan RTH ini tetap memerlukan pengawasan ketat, transparansi mengenai perawatan dan pengalokasian anggaran pemeliharaan taman menjadi kunci agar fasilitas publik ini tidak terbengkalai. Kesadaran pengunjung untuk tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga fasilitas juga menjadi faktor penentu umur panjang oase kota ini.
Dengan terus bertambahnya luas ruang terbuka hijau seperti Wonorejo, Surabaya tidak hanya membangun kota secara fisik, tetapi juga membangun kualitas hidup warganya. Hijau bukan sekadar warna, melainkan investasi kesehatan bagi generasi mendatang di Kota Pahlawan.












