Creative Writing

The Crimson Veil Over the Palace

×

The Crimson Veil Over the Palace

Sebarkan artikel ini

Bayangan Merah Di Atas Langit Malam

Istana Joseon berdiri megah di bawah cahaya rembulan, dengan diterangi lentera yang menggantung di sepanjang dinding-dinding kayu. Di tengah keheningan malam, Raja Jang Woo-yeon duduk di paviliun taman kerajaan, dengan dikelilingi gulungan kertas dan memegang tinta merah pekat. Tangannya yang halus perlahan menggerakan kuas di atas kanvas, menggambar bayangan pohon sakura yang berselimut kabut. Namun, dalam setiap goresan kuasnya, ia merasa ada sesuatu yang tidak biasa dan menjanggal dihatinya. Tinta merahnya mulai mengalir seperti darah, menciptakan jejak yang bukan berasal dari tangannya.

“Yang Mulia, tidakkah Anda merasa malam ini terlalu sunyi?” tanya Shin Ryung-jo, pengawalnya yang berdiri di belakangnya dengan pedang tersampir di pinggang. Matanya yang tajam mengamati setiap sudut taman dengan seksama.

“Malam ini indah, Ryung-jo. Tetapi, entah mengapa, lukisan ini terasa seolah-… berbicara kepadaku,” jawab Woo-yeon sambil memandangi hasil karyanya yang kini terlihat seperti langit merah berdarah di atas istana.

Ryung-jo hanya mengangguk. Ia menyadari, di balik kelembutan raja, tersembunyi jiwa yang gelisah. Woo-yeon adalah satu-satunya yang tahu masa lalu kelamnya sebagai pembunuh bayaran sebelum ia menjadi pengawal istana.

Pertemuan di Balik Tirai Emas

Di aula besar istana, Ratu Kim Sae-ri duduk di atas takhta dengan sikap angkuh. Mata tajamnya menyapu sekeliling, memperhatikan setiap selir yang menundukkan kepala di hadapannya. Choi Eun-kyung, pemimpin para selir, melangkah maju dengan anggun, tetapi senyumnya yang manis tidak bisa menutupi rasa puas di matanya.

“Yang Mulia Ratu, apakah Anda benar-benar percaya bahwa ancaman dari utara hanyalah rumor belaka?” tanya Eun-kyung dengan nada sopan namun menusuk.

Sae-ri mendesis, “Apapun yang terjadi di utara, istana ini akan tetap bertahan. Jangan berpikir Anda bisa menggoyahkan keyakinanku, Eun-kyung.”

Eun-kyung tersenyum tipis, kemudian mengambil langkah mundur sambil mencuri pandang Yoo Mi-sook yang berdiri di sudut ruangan dengan senyuman misterius. Dukun itu tidak mengucapkan sepatah kata apapun, tetapi matanya seolah menyimpan rahasia besar yang hanya ia ketahui.

Pesan dari Dunia Lain

Malam itu, Yoo Mi-sook mengadakan ritual di ruang bawah tanah istana, ditemani oleh Raja Woo-yeon yang penasaran dengan misteri lukisannya. Mi-sook menutup matanya dan membakar dupa yang mengeluarkan asap berwarna merah keunguan.

“Yang Mulia, ada sesuatu yang salah di istana ini. Lukisan Anda bukan sekadar karya seni. Itu adalah peringatan dari dunia lain,” ucapnya dengan suara serak.

Woo-yeon terdiam. Sebuah bayangan muncul dari asap, membentuk sosok wanita dengan gaun berdarah. Sosok itu berbisik, “Cari kebenaran di negeri-negeri jauh. Jika tidak, istana ini akan runtuh di bawah selimut merah.”

Shin Ryung-jo yang mengawasi dari dekat, segera menggenggam pedangnya. “Apa maksudnya ini, Mi-sook?”

“Tanyakan pada ratu dan selirmu. Mereka menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang kau bayangkan,” jawab Mi-sook dengan senyum licik.

Perjalanan Melintasi Negeri

Woo-yeon, Ryung-jo, dan Sae-ri memutuskan untuk memulai perjalanan ke negeri-negeri tetangga untuk mencari jawaban. Di setiap tempat yang mereka kunjungi, teka-teki semakin dalam: dari kuil kuno yang dihuni biksu dengan mata merah, hingga desa yang dihantui oleh roh di setip rumah kosong. Choi Eun-kyung, diam-diam mengikuti mereka, bersekutu dengan kekuatan gelap yang menjanjikan kekuasaan lebih besar.

Namun, semakin jauh mereka melangkah, semakin jelas bahwa setiap misteri terhubung dengan lukisan Woo-yeon yang pertama.

Di sebuah kota yang hilang di balik pegunungan, rahasia besar terungkap. Istana Joseon ternyata dibangun di atas makam seorang ratu kuno yang dibunuh demi tahta. Bayangan dalam lukisan Woo-yeon adalah roh sang ratu yang ingin membalas dendam.

Eun-kyung mencoba merebut kekuatan roh itu untuk menguasai istana, tetapi rencana liciknya digagalkan oleh Ryung-jo yang akhirnya mengungkapkan kebenaran tentang masa lalunya: ia adalah keturunan ratu kuno tersebut.

Sae-ri, meskipun egois, menunjukkan keberanian luar biasa dengan mengorbankan dirinya untuk menyegel roh itu kembali ke makamnya. Mi-sook, yang melihat semuanya dengan senyum puas, berkata kepada Woo-yeon, “Anda telah melukis sejarah baru, Yang Mulia.”

Woo-yeon memandang istana di kejauhan, langitnya kembali biru. Namun, di sudut hatinya, ia tahu bahwa bayangan merah itu tidak sepenuhnya hilang.

Warisan yang Hilang

Setelah kembali ke istana, Woo-yeon dan Ryung-jo menemukan sebuah kotak kayu tua yang terkunci di ruang arsip kerajaan. Kotak itu hanya bisa dibuka dengan kunci berukir lambang bulan sabit yang ada di antara barang-barang pribadi Sae-ri. Dalam kotak tersebut, terdapat sebuah gulungan peta kuno yang menunjukkan lokasi “Perpustakaan Hitam” – tempat rahasia di mana pengetahuan dan sihir dari Joseon kuno disimpan.

Ryung-jo, dengan naluri tajamnya, merasa bahwa tempat itu adalah kunci untuk memahami peringatan sang ratu kuno. Mi-sook memperingatkan mereka bahwa Perpustakaan Hitam dijaga oleh makhluk-makhluk tak kasat mata yang tidak memihak siapa pun. Namun, Woo-yeon tetap bersikeras pergi.

Di perjalanan menuju Perpustakaan Hitam, mereka menghadapi tantangan dari para pemberontak yang setia kepada Eun-kyung, yang kini berada dalam persembunyian. Dalam pertempuran itu, Woo-yeon menunjukkan keberanian yang tidak pernah terlihat sebelumnya, meskipun ia tetap tidak bisa bertarung. Lukisan-lukisannya menjadi senjata, memproyeksikan ilusi yang membingungkan musuh.

Tirai Merah yang Terangkat

Di dalam Perpustakaan Hitam, mereka menemukan kitab kuno yang berisi perjanjian antara ratu kuno dan kekuatan gelap. Perjanjian itu menyebutkan bahwa ratu telah menyerahkan hidupnya untuk menyegel kekuatan gelap yang mengancam Joseon, tetapi ada satu syarat: setiap generasi harus menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan dunia roh.

Eun-kyung tiba-tiba muncul, berusaha mengambil kitab itu untuk dirinya sendiri. Dalam pertempuran akhir yang mendebarkan, Ryung-jo menghadapi Eun-kyung sementara Woo-yeon menggunakan lukisannya untuk membuka jalan keluar. Dengan bantuan Mi-sook, mereka berhasil menyegel kembali kekuatan gelap yang terlepas selama pertempuran.

Ketika mereka kembali ke istana, Woo-yeon mengadakan upacara besar untuk menghormati pengorbanan Sae-ri dan menyatakan bahwa ia akan menjaga keseimbangan seperti yang diamanatkan. Mi-sook, dengan senyum khasnya, memperingatkan, “Tirai merah telah terangkat, Yang Mulia. Tetapi permainan belum selesai.”

Langit di atas istana kembali cerah, tetapi bayangan misteri baru mulai menyelimuti masa depan mereka.

Bersambung…..

Translate »