Cyber PREvent

Puasa sebagai Strategi “Self-Care” Kunci Pencernaan Sehat dan Tidur Nyenyak bagi Mahasiswa

×

Puasa sebagai Strategi “Self-Care” Kunci Pencernaan Sehat dan Tidur Nyenyak bagi Mahasiswa

Sebarkan artikel ini
Lebih dari sekadar menahan lapar, waktu yang berjalan saat berpuasa adalah proses detoksifikasi alami bagi tubuh. Bagi mahasiswa, disiplin waktu dalam puasa adalah strategi self-care efektif untuk menjaga keseimbangan metabolisme dan kesehatan mental di tengah tekanan tugas yang tinggi.

SURABAYA| FIKOM NEWS – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kampus yang dinamis, mahasiswa sering kali terjebak dalam pola hidup yang tidak sehat. Tekanan tugas yang menumpuk, jadwal kuliah yang padat dari pagi hingga petang, serta tuntutan organisasi sering kali membuat aspek kesehatan terabaikan.

Polamakan menjadi tidak teratur, konsumsi kafein meningkat tajam demi terjaga di malam hari, dan durasi tidur berkurang drastis. Namun, sebuah tren kesehatan yang bersifat holistik kini mulai kembali dilirik sebagai solusi mandiri bagi mahasiswa untuk memulihkan kondisi fisiknya, yakni melalui praktik puasa yang terencana.

Puasa kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai bentuk pemenuhan kewajiban religius semata, melainkan telah bertransformasi menjadi bagian dari strategi self-care atau perawatan diri yang saintifik.

Berdasarkan informasi medis yang dihimpun, puasa memiliki manfaat luar biasa yang sering kali tidak disadari oleh pelakunya, terutama dalam menciptakan keseimbangan tubuh secara menyeluruh. Bagi mahasiswa yang kerap terpapar makanan cepat saji atau camilan tinggi gula, puasa memberikan jeda istirahat yang sangat dibutuhkan oleh sistem pencernaan.

Saat seseorang berpuasa, organ pencernaan seperti lambung dan usus berhenti bekerja sejenak dari tugas berat memproses makanan. Kondisi perut yang kosong dalam durasi tertentu memicu tubuh untuk melakukan proses detoksifikasi atau pembersihan racun secara alami.

Energi yang biasanya habis digunakan untuk metabolisme makanan kemudian dialihkan oleh tubuh untuk memperbaiki jaringan sel yang rusak. Hasilnya, metabolisme tubuh menjadi lebih stabil dan efisien.

Hal ini sangat menguntungkan bagi mahasiswa karena metabolisme yang sehat dapat mencegah munculnya rasa kantuk berlebih dan lemas yang sering menyerang di tengah jam perkuliahan penting.

Selain manfaat pada sistem pencernaan, puasa juga memegang peranan krusial dalam memperbaiki kualitas tidur mahasiswa yang sering kali berantakan. Tidur yang cukup dan berkualitas adalah kemewahan bagi pejuang skripsi atau mahasiswa yang sedang menempuh pekan ujian.

Dengan berpuasa, tubuh secara otomatis meregulasi hormon dengan lebih baik, termasuk hormon melatonin yang mengatur siklus tidur. Keseimbangan hormon ini memungkinkan mahasiswa untuk mencapai fase tidur nyenyak (deep sleep) dengan lebih cepat.

Tidur yang berkualitas ini sangat penting untuk proses konsolidasi memori di otak, sehingga daya ingat dan kemampuan kognitif mahasiswa akan tetap optimal saat harus menghadapi paparan materi kuliah yang kompleks.

Lebih jauh lagi, puasa membantu menciptakan keseimbangan emosional.

Tubuh yang bersih dari tumpukan zat sisa metabolisme cenderung membuat pikiran lebih tenang dan fokus. Menerapkan gaya hidup sehat ini tentunya harus dibarengi dengan asupan nutrisi seimbang saat waktu berbuka dan sahur agar energi tetap terjaga untuk mobilitas di kampus.

Dengan menjadikan puasa sebagai bagian dari gaya hidup edukatif, mahasiswa tidak hanya berinvestasi pada nilai akademik, tetapi juga pada aset paling berharga, yaitu kesehatan fisik dan mental yang berkelanjutan.

Translate »