Sport & Entertainment

“Aura Farming”, Bukti Budaya Indonesia Bisa Sekeren Dance Korea

×

“Aura Farming”, Bukti Budaya Indonesia Bisa Sekeren Dance Korea

Sebarkan artikel ini

Gelombang tren “aura farming” sedang menghipnotis pengguna media sosial, dari Indonesia hingga luar negeri. Gaya menari ini lahir dari kreativitas Dhika, kreator konten yang mengadaptasi gerakan khas Pacu Jalur di Riau. Energi dan semangatnya langsung menarik perhatian publik dunia maya.

Makna di Balik “Aura Farming”

Istilah “aura farming” menggambarkan aktivitas mengumpulkan energi positif lewat gerakan tubuh. Di TikTok dan Instagram, tren ini tampil sebagai tarian ritmis dan penuh hentakan.
Dhika pertama kali mengunggah videonya menari dengan gaya energik khas Pacu Jalur. Gerakannya menyulut antusiasme. Banyak warganet ikut menirukan, menjadikannya cara seru untuk menyalurkan semangat dan aura positif.

Akar Budaya: Dari Sungai Kuantan ke Dunia Maya

Gaya “aura farming” bukan tarian modern semata. Ia lahir dari tradisi Pacu Jalur, lomba dayung legendaris asal Kuantan Singingi (Kuansing), Riau.
Dalam tradisi itu, ada sosok penting bernama tukang tari. Ia berdiri di ujung perahu, memberi aba-aba, semangat, dan ritme bagi para pendayung.
Gerakan penuh tenaga dari tukang tari inilah yang Dhika adaptasi ke ranah digital hingga kini dikenal luas di dunia maya.

Dari Tradisi Lokal ke Panggung Internasional

Popularitas “aura farming” menembus panggung global. Bahkan, industri hiburan Bollywood ikut menyorot tren ini.
Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha menyebut tren tersebut sebagai contoh nyata diplomasi budaya digital. Menurutnya, anak muda berhasil mengubah tradisi lokal menjadi karya global.
Ia menegaskan, semangat digital generasi kini mampu membawa warisan budaya Indonesia menembus batas negara. “Aura farming” membuktikan budaya Nusantara bisa berdiri sejajar dengan tren dunia.

Translate »