Surabaya, Fikom Unitomo – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggelar Festival Remo Yosakoi di Balai Pemuda Surabaya pada Minggu (12/7). Acara ini merupakan hasil kolaborasi erat dengan Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya dan Pemerintah Kota Kochi. Agenda tahunan ini bertujuan untuk memperkuat ikatan kerja sama dan melestarikan warisan budaya antara kedua negara.
Festival ini diikuti oleh sekitar 700 peserta lintas generasi, terbagi ke dalam kategori anak-anak, remaja, serta dewasa. Mereka tampil dengan memadukan keindahan tari Remo khas Jawa Timur dengan kedinamisan tari Yosakoi asal Jepang. Kolaborasi budaya ini merupakan bagian penting dari program sister city (kota kembar) yang telah berjalan sejak tahun 2003.
Relasi sister city ini terbentuk karena adanya kemiripan yang kuat dari segi sifat serta karakter masyarakatnya. Pandemi Covid-19 sempat menghentikan acara tahunan yang rutin berlangsung ini. Namun, Pemkot dan Konjen menghidupkan kembali festival tersebut pada tahun 2023 demi menjaga antusiasme masyarakat.
Hubungan sister city ini akan mencapai tonggak sejarah baru pada tahun depan, di mana kedua kota akan memperingati hari jadi kerja sama yang ke-30 tahun. Festival serupa juga akan berlangsung di Kota Kochi pada 9-12 Agustus mendatang. Pemilihan waktu pelaksanaan kegiatan tersebut karena Kota Kochi sedang mengalami musim panas dengan curah hujan yang sangat minim. Kondisi cuaca tersebut akan sangat mendukung jalannya festival Yosakoi.
Indonesia menyimpan potensi seni tari Yosakoi yang sangat besar. Sayangnya, seni ini belum sepenuhnya merambah ke ranah industri kreatif yang mapan. Perwakilan Komunitas Yosakoi mengakui hal tersebut saat mereka turut hadir dalam festival di Surabaya.
“Kami berharap dapat mengomersilkan budaya ini ke depannya agar bisa menjadi industri seni yang mandiri. Memang perjalanannya masih panjang, tetapi kami sedang mengusahakannya. Rencana studi banding ke Kochi pada Agustus nanti akan menjadi langkah awal kami untuk mempelajari sistem mereka dan menerapkannya di Indonesia,” ujarnya saat diwawancarai secara terpisah.











