Surabaya, FikomNews – Di tengah pergantian tren fashion yang begitu cepat, mulai dari demam streetwear hingga gaya minimalist ala Korea. Ada satu jenis pakaian yang tetap berdiri tegak melawan arus waktu di lingkungan universitas yaitu kemeja flanel. Jika diperhatikan seksama di berbagai kampus di Indonesia, motif kotak-kotak ini seolah menjadi “seragam” tidak resmi yang menyatukan mahasiswa dari berbagai angkatan dan jurusan. Fenomena ini menegaskan bahwa bagi mahasiswa, flanel bukan sekadar kain penutup tubuh, melainkan sebuah solusi gaya hidup.
Kehadiran kemeja flanel yang masif di lingkungan akademik menawarkan sebuah narasi menarik tentang bagaimana pragmatisme bertemu dengan estetika. Dari kantin hingga ruang kelas, flanel mampu beradaptasi dengan situasi yang beragam.
Transformasi Fungsi: Dari Pekerja Tambang ke Ruang Kuliah
Secara historis, flanel awalnya diciptakan untuk para pekerja kasar di musim dingin karena durabilitas dan kehangatannya. Namun, di tangan mahasiswa, fungsi ini bergeser. Flanel kini menjadi simbol efisiensi. Bagi mahasiswa dengan jadwal perkuliahan yang padat dan pola tidur yang tidak teratur, kemudahan perawatan menjadi kunci.
Kain flanel memiliki keunggulan teknis yang sulit ditandingi oleh kemeja katun biasa: ia tidak mudah kusut. Mahasiswa tidak perlu menghabiskan waktu menyetrika di pagi hari. Cukup diambil dari gantungan atau bahkan tumpukan pakaian, kemeja ini tetap terlihat layak pakai. Sifat bahannya yang “jatuh” dan teksturnya yang berkarakter mampu menyamarkan kekusutan, menjadikannya pilihan paling rasional bagi mereka yang mengutamakan kepraktisan.
Fleksibilitas Gaya: Satu Kemeja, Beragam Citra
Daya tarik utama flanel terletak pada fleksibilitas penggunaannya atau versatility. Dalam ekosistem kampus yang menuntut kedinamisan, satu potong pakaian harus bisa memenuhi berbagai peran. Kemeja flanel menjawab tantangan ini dengan sempurna.
Ketika dikenakan dengan kancing tertutup penuh dan dimasukkan ke dalam celana bahan atau chino, ia memberikan kesan semi-formal yang cukup sopan untuk menghadap dosen pembimbing atau melakukan presentasi di depan kelas. Namun, hanya dengan membuka kancingnya dan menjadikannya luaran (outer) di atas kaos polos, citra pemakainya langsung berubah menjadi santai dan kasual, sangat pas untuk kegiatan nongkrong atau diskusi ringan di selasar kampus. Kemampuan adaptasi inilah yang membuat flanel menjadi item wajib dalam lemari pakaian mahasiswa (“must-have item”).
Ekonomi dan Budaya Thrifting
Popularitas flanel tidak akan lengkap tanpa menyinggung aspek ekonomi. Mahasiswa, sebagai kelompok demografi yang umumnya memiliki uang saku terbatas, cenderung mencari pakaian yang tahan banting dengan harga terjangkau.
Flanel sangat erat kaitannya dengan budaya belanja pakaian bekas atau thrifting yang kini digandrungi Generasi Z. Di pasar-pasar loak maupun toko daring, kemeja flanel berkualitas baik seringkali dari merek ternama, bisa didapatkan dengan harga yang sangat miring dibandingkan harga ritel. Durabilitas bahan flanel membuat pakaian ini memiliki umur pakai yang panjang, sehingga membeli bekas pun seringkali tidak mengurangi kualitas fungsionalnya. Ini menjadikan flanel sebagai pilihan cerdas secara finansial: investasi minim untuk kegunaan maksimal.
Simbol Identitas yang Cair
Lebih jauh lagi, flanel telah menjadi kanvas netral yang melintasi batasan stereotip jurusan. Dahulu, mungkin kemeja ini identik dengan mahasiswa teknik atau pecinta alam. Namun kini, batasan itu kabur. Mahasiswa seni, sosial, hingga kedokteran mengadopsinya dengan gaya masing-masing.
Motif kotak-kotak (plaid) memberikan tekstur visual yang menarik tanpa terlihat berlebihan. Ia memberikan kesan “berusaha tampil rapi” namun tetap low profile dan rendah hati. Dalam psikologi busana, ini adalah titik keseimbangan yang nyaman: pemakainya terlihat peduli pada penampilan, namun tidak terkesan narsis atau berlebihan.
Tips Memaksimalkan Tampilan Flanel
Agar tetap terlihat segar dan relevan, penggunaan flanel di kampus perlu memperhatikan beberapa aspek detail:
-
Proporsi adalah Kunci: Tren oversized memang sedang populer, namun flanel yang terlalu besar bisa membuat tubuh terlihat tenggelam. Pastikan potongan bahu tetap berada di posisi yang wajar agar tetap terlihat rapi.
-
Permainan Layering: Karena cuaca Indonesia yang tropis, penggunaan flanel sebagai outer sebaiknya dipadukan dengan kaos dalam berbahan tipis dan menyerap keringat. Hindari menumpuk terlalu banyak lapisan agar tidak gerah.
-
Warna Netral: Bagi yang baru ingin mencoba, flanel dengan dominasi warna navy, hitam, atau abu-abu adalah pilihan paling aman karena mudah dipadukan dengan celana jins maupun celana bahan warna apapun.
Pada akhirnya, eksistensi kemeja flanel di kampus membuktikan bahwa tren fesyen tidak melulu soal apa yang baru di panggung runway. Kadang, tren terbaik adalah apa yang paling mengerti kebutuhan penggunanya: nyaman, murah, dan serbaguna. Selama kriteria tersebut masih menjadi prioritas mahasiswa, dominasi motif kotak-kotak di koridor kampus tampaknya belum akan berakhir dalam waktu dekat.












